Bertanyalah salah satu santrinya, Pak Haji Tohir, “Aneh dan pengakuan itu dalam konteks yang bagaimana, kiai?”
Yai kampung itu sedikit memejamkan mata, membuka kembali sembari menghela napas, berat dan panjang, mengerutkan dahi sebentar menengok ke luar langgar, kemudian menatap luas para santrinya yang dari berbagai umur dan kalangan.

“Dengarlah ini,” Yai Agus memulai menjelaskan. “Mengaku mengenal Allah, tapi tidak dekat dengan-Nya. Mengenal nabi dan rasul, tapi tidak dengan ajarannya. Mengenal kitab Quran, tapi tidak menjadikannya sebagai pedoman. Mengharap surga, tapi tidak berbuat untuk menujunya. Menghindari neraka, tetapi berbuat yang mendekatinya. Tekun menimbun dosa, setan jelas-jelas dan benar-benar musuh nyata, tapi malah berkawan akrab dengannya. Takut mati, tetapi tidak siap dengan bekalnya. Percaya takdir, qada-qadar, tetapi sering mengeluh karenanya. Bukankah itu aneh menurut kalian?”
Jamaah terdiam, tanpa tahu harus membalas ucapan kharismatik yai kampung Agus Basuki.
