“Jamaah sekalian yang dirahmati Allah. Allah tidak butuh salat kita, jadi salat ya salat saja karena Allah, yang lain tidak. Jangan mengharap pahala, jangan berharap pula dibalas dengan surga, jika tidak diterima, neraka dan siksa sebagai balasannya. Allah tetap Allah, itu adalah hak mutlak Allah. Kita hanya hamba, cukup menjadi hamba. Berdoa-berusaha itu wajib, tapi tawakal sepenuhnya setelahnya.
Seorang anak kecil menyela, “Jadi, ngaji fikih ini tidak ada gunanya, Yai?”

Jamaah pun terhenyak, takut-takut Yai Agus marah, karena persoalan itu dianggap tidak patut ditanyakan. Yai Agus tersenyum, “Ngger… thole, bocah bagus. Fikih itu menjadi dasar syariat, sebagai bentuk kepantasan menghadap kepada Sang Maha Menghidupi. Makanya, ada syarat, rukun, dan sunah dalam ibadah. Kemudian, seimbangkan dan fleksibelkan. Salat itu harus benar dulu secara fikhiyah. Makanya, kitab-kitab besar menjadikan materi thaharah dalam awalannya, urusan diterima, diganjar, ditolak, bahkan dilaknat, itu urusan Allah. Kita hanya hamba, tidak boleh dan tidak berwenang mencampuri kekuasaan-Nya.”
Sudah menjelang azan isya, Yai Agus menyudahi pengajian sederhananya, menutup dengan doa. “Ya Allah, jika semua ibadahku tidak cukup untuk menggayuh rahmat-Mu, namun aku yakin, rahmat-Mu mampu menggayuhku. Amiin…,”diikuti jemaah yang lain.
