Kelak, Pramoedya mengenangnya sebagai pemuda langsing, gagah, ganteng, berhidung mancung bersikap aristokrat tulen, dan …tinggalnya di Jalan Gondangdia Lama, kawasan elite tempat mukim orang-orang berkelas. “Mendengar nama jalan ini saja, kami pribumi kampung yang lain, mau tak mau terpaksa angkat pandang menatap wajahnya,” kenang Pramoedya.
Anak gedongan itu, oleh Pramoedya diundang ke kelompok diskusi sastra yang disebut “Penerbitan Kami”. Pramoedya ingin membanggakan kelompok diskusinya di hadapan anak gedongan itu. Asrul Sani kemudian diminta membaca sajak-sajak yang ditulis kelompoknya Pram, dan kemudian dimintai pendapatnya. Jawaban Asrul Sani ternyata di luar dugaan: “Tahu apa orang-orang ini tentang sajak? Tahu apa orang-orang ini tentang Keats dan Shelley?” Saat itulah, Pramoedya tersadar bahwa “Penerbitan Kami” memang tidak tahu apa-apa tentang apa-apa yang disemburkan Asrul Sani itu. Semburan api Asrul Sani itu kemudian membakar semangat “Penerbitan Kami” untuk mendalami sastra. Itulah bibit-bibit perkembangan sastra modern yang mulai disemai Asrul Sani.

Selama bersekolah di Bukittinggi, yang berjarak 100 kilometer dari Roa itu, ia indekos dengan ditemani neneknya. Jika pagi hingga siang ia bersekolah di HIS, sorenya belajar agama di Dar el Ashar, lembaga pendidikan agama yang dipimpin oleh salah satu tokoh NU di Bukittinggi. Inilah lapis lain tradisi yang mengasuh Asrul Sani: tradisi keagamaan ala NU. Karena itu, kelak, ia mengaku lebih cocok bergaul dengan ulama-ulama dari NU ketimbang kelompok lain. Bahkan, asuhan tradisi ini yang kelak juga memandu Asrul Sani menentukan pilihan dalam gelombang “perang kebudayaan”.
Jalan Kebudayaan
Setamat dari HIS Bukittinggi, pada 1939 Asrul merantau ke Jakarta. Di Jakarta, ia masuk sekolah teknik Koningin Wihelmina School (KWS). Tak lama kemudian, ketika sang ayah wafat, ibunya menyusul ke Jakarta. Namun, sebelum lulus KWS, Jepang datang merebut kekuasaan dari Belanda. Asrul Sani akhirnya diajak kembali ke Bukittinggi. Namun tak lama kemudian, sang ibu meminta Asrul Sani kembali ke Jakarta, ketika zaman kekacauan hampir mencapai titik didih. Sang ibu mengantarnya dengan pesan yang akan dikenang sepanjang hidupnya: “Jangan tundukkan kepalamu karena jabatan atau uang!”
Pada 1942 Asrul Sani tiba kembali di Jakarta. Namun, ia tak meneruskan ke sekolah teknik di KWS, melainkan masuk SMP Taman Siswa. Di sekolah inilah ia berkenalan dengan Pramoedya Ananta Toer, bahkan menjadi teman sebangku. Situasi sekolah di Taman Siswa, dan juga pertemanannya dengan Pramoedya, makin memupuk kecintaan Asrul Sani pada sastra. Apalagi, setelah itu, ia juga bertemu dengan Chairil Anwar dan kemudian Rivai Apin, yang lekas menjadi karibnya dalam “tiga serangkai”. Bahkan, di masa SMP itu, ia sudah mulai menulis puisi, yang salah satunya dimuat di koran Pemandangan, Gema Suasana, dan Mimbar Indonesia.
Setelah tamat SMP, Asrul masuk ke Sekolah Kedokteran Hewan, Bogor, dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan (sekarang Institut Pertanian Bogor, IPB) — hingga nanti meraih gelar kesarjanaannya tahun 1955. Namun, pada akhirnya kita tahu, ia “membelokkan” jalan hidupnya, takdirnya. Ia tidak menjadi orang teknik, sebagaimana ia juga tidak menjalani profesi sebagai dokter hewan. Ia memilih menjadi orang pergerakan. Pergerakan di bidang kebudayaan, dimulai dari kecintaannya pada sastra. Pada 1948, yang berarti statusnya masih mahasiswa, bersama Chairil Anwar, Rivai Apin, dan Rosihan Anwar, ia menjadi redaktur ruangan kebudayaan Gelanggang dalam Majalah Siasat. Inilah gelanggang pematangan Asrul Sani di dunia sastra. Puncaknya, pada 1950, bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin menerbitkan kumpulan puisi dengan judul yang garang, Tiga Menguak Takdir.
Kepeloporan Asrul Sani sebagai penggerak kebudayaan ditandai dengan diterbitkannya “Surat Kepercayaan Gelanggang” pada 22 Oktober 1950. Ini sesungguhnya semacam proklamasi di bidang kebudayaan di zaman tarikan gelombang ideologi dan politik serta tatanan baru dan lama begitu kuatnya. “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri… kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.”
Ia membawa sastra Indonesia menyongsong dunia baru, “dengan cara kami sendiri”, dengan tidak terbelenggu pada sastra masa lalu, juga tak menghamba sastra Barat. Gerekannya itulah yang menempatkannya sebagai pelopor Angkatan 45.
