Yang Mengusik Takdir*

Lagi-lagi, asuhan tradisi pula memandu Asrul Sani menentukan pilihan ketika “perang kebudayaan” sedang membara. Atau, ideologi-ideologi politik mengintrusi kebudayaan, partai-partai politik berebut mimbar kebudayaan. Puncaknya adalah ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 17 Agustus 1950. Banyak sastrawan dan seniman yang ditarik masuk masuk ke dalam lembaga ini, termasuk dua sahabat Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer dan Rivai Apin. Misi Lekra jelas, kebudayaan nasional harus berbasis ideologi komunis.

Asrul Sani sebenarnya juga termasuk tokoh yang diincar untuk mau masuk Lekra. Namun, dengan latar belakang tradisi yang mendidiknya, Asrul Sani cenderung anti-komunis. Dalam situasi seperti itu, mula-mulai Asrul Sani mendekati Soedjatmoko, tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI). Sayangnya, Soedjatmoko justru tidak menyambut ide Asrul Sani agar PSI mendirikan lembaga kebudayaan untuk mengadang gerakan Lekra. Pilihannya akhirnya jatuh pada NU. Bersama Djalamuddin Malik dan Usmar Ismail, ketiga tokoh ini mendekati ulama-ulama NU agar menghidupkan kebudayaan dan kesenian berbasis keagamaan. NU, yang memang menjadi musuh PKI, menyetujui ide tersebut. Maka, pada 28 Maret 1962 dibentuklah Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU). Berlawanan dengan Lekra yang berbasis komunis dan menjadikan seni sebagai alat revolusi, maka Lesbumi berbasis keagamaan yang menjadikan seni sebagai ekspresi tradisi keagamaan. Pada masa ini, yang dilakukan Asrul Sani di antaranya menggalang pemboikotan atau pembatasan masuknya film-film Barat, membuat film Tauhid, dan menggerakkan warga NU untuk berkesenian. Lesbumi, yang hingga kini masih eksis sebagai salah organ NU di bidang kesenian dan kebudayaan, dengan demikian merupakan warisan dari Asrul Sani.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Amatir, Mengusik Takdir

Banyak orang sering kesulitan menempatkan posisi Asrul Sani karena begitu luasnya bidang yang digeluti. Ia menulis puisi, menulis cerpen, menulis naskah drama dan film, menyutradarai film, termasuk membuat film televisi sebelum banjir sinetron, dan bahkan menjadi politisi. Dan semua karyanya memiliki pengaruh yang kuat, juga memperoleh apresiasi tinggi. Yang menarik, ia justru menyebut dirinya seorang amatir. Dan itu diungkapkannya dalam beberapa kesempatan. Artinya, sebutan-diri itu terasa sangat serius.

“Saya tidak pernah punya profesi. Saya amatir. Sebab, begitu kita jadi profesional tentang sesuatu, kita tenggelam dengan apa yang kita tekuni sebagai profesi,” itulah alasan Asrul Sani menyebut dirinya amatir. “Seorang amatir melakukan sesuatu karena kesenangan.”

Rupanya, bagi Asrul Sani, menjadi profesional, menekuni satu bidang profesi, justru akan membelenggu daya kreativitasnya. Pada awalnya ia berpuisi. Tapi ketika puisi dirasa tidak lagi mampu mewadahi daya kreativitasnya, ia beralih ke wahana lain. Itulah kenapa, ia kemudian menulis cerpen, esai, naskah drama dan film. Juga berteater. Juga berpolitik. Lebih dari orang lain, ia berkreativitas dalam sumbu gerakan, dan gerakannya itu memengaruhi gerakan-gerakan lain. Karena itulah, keamatirannya justru mengusik takdir banyak orang, termasuk takdir dirinya sendiri.

Lihatlah, di usia senjanya, sebagai penyandang gelar Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Republik Indonesia, justru tak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Ia berpesan kepada istrinya, Mutiara Sani, agar nanti ketika wafat tidak dimakamkan di TMP. “Masa sampai detik terakhir, kita masih mau diatur negara,” katanya kepada sang istri.

Maka, ketika pada Minggu, 11 Januari 2004, Asrul Sani wafat, kebetulan di hari yang sama sang kakak, Chairul Basri, juga wafat, TNI AD menyiapkan dua peti jenazah. Bedanya, jenazah Asrul Sani dibawa ke Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo Jakarta, sedangkan jenazah sang kakak dibawa TMP Kalibata.

Bahkan sampai detik terakhir pun, ia mengusik takdirnya sendiri. Tak hendak dimakamkan bak pahlawan.

Tinggalkan Balasan