Beruntung, dari penelitiannya itu Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt mampu merumuskan indikator-indikator kunci yang bisa dijadikan alat ukur. Asumsinya, jika ada seorang tokoh menyandang indikator-indikator kunci tersebut, maka ia memiliki potensi untuk berlaku dan bersikap antidemokrasi, melakukan pembusukan demokrasi, atau bahkan membunuh demokrasi meskipun kekuasaan yang digenggamnya diperoleh melalui jalan demokrasi. Pesannya: ia tokoh yang tak layak dipilih untuk menjadi pemimpin.
Empat Indikator Kunci

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt menyediakan empat indikator untuk menelisik tingkat keantidemokrasian seorang tokoh, tentu dalam hal ini adalah seorang tokoh yang sedang berebut kekuasaan melalui jalan demokrasi, katakanlah pemilu. Saya mengadopsi keempat indikator kunci tersebut agar bisa menjadi panduan untuk menentukan pilihan pada Pemilu 2024.
Yang pertama adalah indikator yang berkaitan dengan masalah intoleransi dan eskalasinya. Eskalasi dari intoleransi bisa jadi berupa kebencian, permusuhan, radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme.
Mungkin saja memang benar-benar ada tokoh intoleran yang ikut berlaga. Tapi indikator itu tak melulu disandangkan kepadanya, melainkan juga pada pengusung atau pendukungnya. Meskipun, secara pribadi merupakan tokoh yang toleran, namun jika diusung dan didukung oleh kelompok-kelompok intoleran, ia dapat dimasukkan ke dalam kelompok kekuatan antidemokrasi. Yang juga termasuk ke dalam kategori ini adalah mereka yang membiarkan atau tidak pernah menolak menguatnya kelompok-kelompok intoleran. Politisasi agama dan politisasi identitas termasuk ke dalam indikator ini.
