Yang Terbit, Yang Tenggelam, Yang Tak Tepermanai*

Saya terpaku. Saya terhenyak. Saya terharu.

Di satu sudut di Pameran 60 Tahun Majalah Horison di PDS H.B. Jassin (23 April–24 Mei 2026), saya melihat foto itu dengan penuh perasaan yang saya coba tahan. Duduk di kursi, berderet dari kanan ke kiri: Taufiq Ismail, Ati Ismail, H.B. Jassin, Mochtar Lubis, dan Sutardji Calzoum Bachri. Berdiri di belakang mereka, berderet dari kanan ke kiri: Ikranagara, Azwan Hamir, Hamsad Rangkuti, Fadli Zon, dan saya sendiri. Di belakang kami semua, terpampang logo Horison dan Kakilangit. Saya ingat: itu foto tahun 1996. Ya Allah, betapa cepat waktu berlalu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Yang membuat saya semakin terpaku adalah kenyataan bahwa sebagian dari mereka telah mendahului kita, satu demi satu. Kini yang tinggal adalah Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Ati Ismail, Fadli Zon (kini Menteri Kebudayaan RI), dan saya sendiri. Saya berusaha tidak romantik. Meski telah mendahului kita, tidak, mereka tidak tenggelam. Alih-alih, merekalah di antara yang tak tepermanai. Saya masih merasakan hangat tangan mereka di setiap huruf majalah Horison.

Namun, sekali lagi, saya berusaha untuk tidak larut dalam romantisme. Pameran ini —yang bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam”— tidak hanya mengundang kita untuk bernostalgia. Ia mengundang kita untuk bertanya dengan lebih jujur: apa yang terjadi pada majalah-majalah sastra yang tidak pernah tercatat? Lalu, apa bedanya antara yang terbit dan yang tenggelam, jika sama-sama bisa lenyap dari ingatan?

Saya juga terharu melihat seluruh pameran ini, karena saya bukan lagi pemimpin redaksi Horison —jabatan itu sudah saya letakkan. Saya sama sekali tak ambil bagian dalam menyiapkan pameran ini, kecuali —atas permintaan panitia— sebatas menyampaikan pidato kunci di pembukaan pameran. Bagi saya sebagai mantan pemimpin redaksi, seluruh publikasi Horison telah menjadi sejarah, dan sejarah adalah milik publik. Maka, publik boleh memperlakukan seluruh publikasi Horison dengan cara mereka sendiri, seperti Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang menyelenggarakan pameran ini.

Fokus pada satu pameran bukan berarti menafikan hadirnya majalah-majalah sastra lain di luar diri kita. Justru sebaliknya. Pameran “Yang Terbit, Yang Tenggelam” ini, bagi saya, adalah sebuah pengakuan terbuka bahwa di balik setiap narasi besar yang terbit, ada banyak kapal yang tenggelam —dan bahwa kapal itu layak untuk ditengok, layak untuk diratapi, dan mungkin, layak untuk diselamatkan —setidaknya sebagian.

Sampai di sini saya merasakan sesuatu yang aneh: ingatan saya justru melayang ke buletin Jejak. Buletin Jejak? —Ya, buletin itulah yang tiba-tiba melintas.

Mercusuar dan Jejak yang Terhapus

Sastra Indonesia bukan hanya sejarah tentang yang berhasil menjadi monumen, tetapi juga tentang jejak-jejak kecil yang nyaris hilang namun diam-diam membentuk arah perjalanan kebudayaan kita. Jangan-jangan sebagian besar sejarah sastra Indonesia sebenarnya dibangun oleh mereka yang tidak pernah masuk ke dalam sejarah resmi.

Secara historis, majalah sastra merupakan media penting perkembangan sastra Indonesia modern. Dari Poedjangga Baroe hingga Horison, sastra Indonesia modern tak bisa dipisahkan dari majalah sastra itu sendiri (dan lembaran-lembaran sastra di berbagai koran). Ini bukan sekadar pernyataan akademik yang dingin. Ini adalah fakta yang berdenyut: hampir semua puisi, cerpen, esai, dan kritik yang membentuk kesadaran sastra kita pertama kali lahir di antara halaman-halaman majalah yang terbit —dalam sirkulasi kecil, dengan dana pas-pasan, dan dengan semangat yang kadang membakar, kadang padam digilas zaman.

Hampir semua penyair kita, dari Amir Hamzah hingga Acep Zamzam Noor, melewati proses yang sama: seseorang membaca naskah mereka di antara tumpukan yang masuk ke redaksi, seseorang menganggapnya layak, seseorang (yang mungkin tidak mereka kenal) mengetik ulang karya mereka, dan suatu hari nama mereka tercetak di majalah (atau surat kabar). Itulah mukjizat kecil dari majalah sastra. Sebuah mukjizat yang tidak pernah meriah, bahkan sering tidak disadari —meskipun mungkin terasa megah secara eksistensial dan emosional.

Sekarang, mari kita melihat arsitektur majalah sastra dari ekosistem sastra kita yang rapuh ini, untuk merenungkan bagaimana sejarah sastra kita terbentuk. Saya tidak sedang membuat teori besar. Saya hanya mencoba menggambar peta sederhana dari apa yang saya lihat, dari apa yang saya alami selama bertahun-tahun di dapur redaksi Horison, dan dari apa yang saya saksikan di luar sana—di Bekasi, di Tangerang, di Serang, di Bandung, di Yogyakarta, di Madura, di Bali, di Lampung, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua, di tempat-tempat yang jarang disebut dalam buku sejarah sastra. Dalam cakrawala ini, paling tidak ada dua lapisan.

Lapisan pertama, majalah sastra nasional yang elitis. Inilah lapisan yang paling kelihatan, paling sering dirujuk dalam berbagai kajian (baik akademik maupun non-akademik) dan buku teks. Sebut saja Poedjangga Baroe (1933–1942), Kisah (1953–1956), Sastra (1961–1964), Horison (1966–sekarang, dengan pasang-surut yang menyakitkan), Basis (1951–sekarang, tetapi dengan fokus yang tak selalu semata sastra), Kalam (1988–2004), Jurnal Sajak (2013—sekarang, namun dengan ketidakpastian), dan sederet nama lain yang pernah muncul lalu lenyap seperti Gelanggang (1966) yang konon hanya sempat terbit tiga edisi namun meninggalkan bekas yang dalam.

Majalah-majalah ini elitis. Saya tidak malu mengatakannya, sebab saya —dan mereka, majalah-majalah itu— tidak bermaksud jumawa. Elitis dalam dua pengertian, secara sosiologis dan kultural.

Elitis secara sosilogis: pengasuhnya, penulis tetapnya, bahkan pembaca setianya—mereka umumnya adalah orang-orang dengan modal budaya yang tidak dimiliki sembarang orang. Sastrawan yang sudah diakui, sarjana sastra, dosen, kritikus mapan, ilmuwan, budayawan. Selera mereka terbentuk oleh bacaan yang luas, oleh diskusi yang panjang, oleh kepekaan yang diasah bertahun-tahun. Ketika mereka mengatakan “ini bagus” atau “ini tidak”, kata-kata itu punya bobot, punya konsekuensi, dan kadang—saya harus jujur—juga punya rasa keangkuhan yang sulit disingkirkan sepenuhnya. Hari ini saya bertanya-tanya: berapa banyak suara yang diam-diam tersingkir oleh keangkuhan itu?

Elitis secara kultural: majalah-majalah ini adalah minoritas kreatif dalam arti yang paling klasik. Mereka tidak mewakili suara mayoritas. Mereka tidak berusaha menjadi populis. Mereka justru bangga dengan posisi pinggirannya secara kultural, politik, dan ekonomi, karena dari pinggiran itulah mereka bisa melihat lebih jernih dan berbicara lebih bebas. Fungsi mereka bukanlah menggemakan apa yang sudah diketahui publik, melainkan memaksa publik untuk melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat, untuk merasakan getaran yang belum pernah mereka rasakan. Mereka adalah pengeras suara bagi bentuk-bentuk baru, bagi keberanian estetis, bagi kritik yang mungkin tidak nyaman didengar. Di sini saya harus menggarisbawahi: elitisme kultural ini tidak identik dengan aristokrasi sosial. Elitisme kultural terkait erat dengan disiplin estetik dan ketekunan intelektual.

Namun, justru karena elitis, mereka tidak pernah besar. Oplah Poedjangga Baroe konon hanya 150 eksemplar. Oplah tertinggi Horison hanya 12 ribu eksemplar. Meskipun 12 ribu eksemplar mungkin merupakan angka tertinggi yang pernah dicapai majalah sastra, bagaimanapun angka tersebut sangat rendah dibanding jumlah penduduk Indonesia. Sebuah majalah mingguan atau surat kabar umum harian bisa mencapai oplah ratusan ribu. Kita kalah telak. Tapi kita tidak pernah menganggap itu sebagai kekalahan, karena kita tidak pernah bermain di arena yang sama. Kita bermain di arena lain: arena di mana kuantitas tidak begitu penting, sekunder. Yang penting adalah kualitas —dan kualitas itu akan abadi meskipun majalahnya mati. Setidaknya itulah yang kita yakini, tentu tanpa bermaksud menyombongkan diri.

Lapisan kedua, publikasi komunitas lokal yang mengakar. Di sini saya perlu mengulang kalimat di atas: sastra Indonesia bukan hanya sejarah tentang yang berhasil menjadi monumen, tetapi juga tentang jejak-jejak kecil yang nyaris hilang namun diam-diam membentuk arah perjalanan kebudayaan kita. Di sinilah komunitas-komunitas sastra menempati posisi strategisnya —meskipun tak terlihat, tak tercatat, dan patah tumbuh hilang berganti. Ratusan komunitas tumbuh di mana-mana. Dalam cakrawala arsitektur majalah sastra, sebagian dari komunitas-komunitas sastra itu mengusahakan publikasi: majalah, buletin, jurnal, buku.

Di titik ini kita masuk ke buletin Jejak sebagai contoh kasus publikasi komunitas lokal yang mengakar. Buletin Jejak sebagai pars pro toto. Buletin ini adalah publikasi Forum Sastra Bekasi (FSB), komunitas yang didirikan pada April 2011 oleh Budhi Setyawan, M. Taufan Musonip, Yoyong Amilin, dan Dani Ardani, dengan Sofyan RH. Zaid sebagai salah seorang eksponen pentingnya. FSB tidak hanya menjadi ruang diskusi dan panggung sastra, melainkan juga menerbitkan buletin Jejak secara rutin setiap bulan. Sejak awal berdirinya, buletin ini terbit rutin setidaknya hingga lima tahun pertama usianya, sebuah prestasi yang nyaris langka di antara komunitas sastra Indonesia. Selama lima tahun pertama usianya, Jejak terbit 16 halaman setiap edisi, memuat puisi, cerpen, esai sastra-budaya, kritik sastra, ulasan buku, hingga rubrik “Embrio” untuk karya siswa sekolah. Ini mengukuhkan FSB sebagai komunitas yang memiliki stamina maraton, bukan sekadar lari cepat.

Lebih dari sekadar keteraturan teknis, Jejak menjadi lingkaran kreasi dan produksi sastra yang saling menghidupi: penulis membangun komunitas, komunitas menerbitkan publikasi, dan publikasi melahirkan penulis-penulis baru. Perlu ditambahkan, FSB tidak hanya memproduksi karya-karya kreatif, melainkan juga memproduksi berbagai pemikiran sastra-budaya melalui rubrik tetap “Catatan Kebudayaan” yang sebagai isu utama buletin sebagian besar diisi oleh eksponen FSB sendiri. Dalam arti itu, FSB bukan saja komunitas kreatif sastrawan, melainkan juga komunitas diskursif yang berani menancapkan posisinya tidak hanya untuk Bekasi, tetapi juga untuk sastra Indonesia secara luas.

Jika Horison dan majalah sejenisnya adalah mercusuar yang terlihat dari kejauhan, maka buletin Jejak adalah jejak-jejak kecil di atas pasir yang setiap saat dapat terhapus ombak—dan justru di situlah letak maknanya yang paling dalam. Eksistensinya sebagai publikasi komunitas lokal yang mengakar dibuktikan tidak hanya dengan buletin bulanannya, tetapi juga dengan antologi-antologi puisi seperti Kepada Bekasi (2013) dan Saksi Bekasi (2015). Dua antologi ini merekam perubahan dramatis kota Bekasi sebagai penyangga Jakarta—hilangnya sawah, mengeringnya sungai, tergusurnya kehidupan lama oleh pabrik dan industri. Para penyair mengemukakan itu dengan nada yang jujur, prihatin, dan kadang pedih, seperti dalam puisi Dian Rusdiana: pada tanahmu yang memendam bara api, aku hangus terbakar. Puisi-puisi itu, yang menangisi Bekasi karena para penyairnya justru sangat mencintai kota itu, adalah kesaksian kolektif yang tidak akan pernah masuk dalam buku pembangunan kota atau brosur investasi—dan karena itulah ia harus diingat.

Buletin Jejak dan FSB tentu tidak luput dari kelemahan: buletin yang terkesan dikerjakan dengan terburu-buru, kadar ketidaksempurnaan yang masih terasa dalam berbagai publikasi. Namun, ia tetaplah satu kasus komunitas sastra Indonesia yang dengan dedikasi tinggi berusaha menyumbangkan sesuatu bagi sastra Indonesia. Dengan segala keterbatasan, FSB telah memberikan kontribusi pada lingkungan terdekatnya, dan dengan cara itu pula ia menyumbang sesuatu pada sastra Indonesia—karena, pada akhirnya, sebuah komunitas sastra terlebih dulu harus berarti bagi lingkungannya sendiri. Dengan cara itu ia berarti. Dan hanya setelah berarti, penyair boleh pergi. Tapi tidak. Penyair tak boleh pergi. Tak boleh pergi.

Horison Sastra, Jejak Sastra

Izinkan saya mengajak kita semua untuk jujur. Horison dan Jejak tidak setara. Bukan karena yang satu lebih baik dari yang lain. Tapi karena alam semesta tempat mereka berputar memang berbeda. Horison lahir dari rahim elite sastra Pusat. Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Arief Budiman — nama-nama itu sudah menjadi mitos sebelum saya dilahirkan. Redaksinya di Jakarta. Pengedarannya nasional. Bahasa yang dipakainya adalah bahasa yang diajarkan di universitas. Sementara, Jejak lahir di Bekasi, dari kegelisahan penulis-penulis muda yang tidak punya nama besar. Dicetak dengan dana patungan. Diedarkan dari tangan ke tangan di warung kopi. Bahasa yang dipakainya kadang kaku, kadar ketidaksempurnaannya terasa. Tapi justru di situlah kejujuran itu bersarang.

Mohon dipahami bahwa saya tidak sedang membuat perbandingan hierarkis. Saya sedang mencoba memahami: apa yang terjadi ketika mercusuar dan jejak di pasir berada dalam ekosistem yang sama? Horison berbicara kepada Indonesia. Jejak berbicara dari dalam Bekasi. Horison mengklaim universalitas. Jejak tidak pernah mengklaim apa-apa selain: ini suara kami. Horison bertahan enam puluh tahun dengan pasang-surut yang menyakitkan. Jejak —setahu saya— sudah tidak terbit lagi. Entah sejak kapan. Saya tidak tahu persis.

Dan justru ketidaktahuan saya itu adalah bagian dari masalah.

Apa yang hilang ketika Jejak tenggelam? Bukan hanya puisi-puisi tentang hilangnya sawah di Bekasi. Bukan hanya rubrik “Embrio” yang menjadi ruang pertama bagi siswa sekolah untuk melihat namanya tercetak, alias lolos kurasi. Yang hilang adalah ekosistem kecil yang membuat sastra tetap bernapas di tempat yang tidak memiliki galeri, tidak memiliki toko buku bagus, tidak memiliki diskusi mingguan di kampus ternama.

Sastra Indonesia tidak akan mati tanpa Jejak. Tapi sastra Indonesia jelas akan menjadi lebih miskin. Lebih Jakarta-sentris. Lebih elitis dengan cara yang tidak semestinya. Di titik inilah kita harus mengakui: Horison butuh Jejak sama seperti Jejak butuh Horison.

Saya bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan, sebagai pemimpin redaksi Horison waktu itu, untuk publikasi seperti Jejak? Jawabannya menyakitkan: hampir tidak ada.

Memang, kami memuat beberapa penulis dari komunitas. Tapi itu pun selektif, dan seleksinya tetap menggunakan ukuran Horison —ukuran yang elitis, yang tidak pernah dirancang untuk mengakomodasi kegaduhan dan ketidaksempurnaan komunitas akar rumput. Kami merasa sudah cukup dengan memberi ruang sesekali. Kami tidak pernah berpikir untuk berbagi teknologi, untuk menjemput bola, untuk menjadikan diri kami bukan sekadar mercusuar tapi juga pemindai yang merekam jejak sebelum ombak menghapusnya.

Jangan-jangan sebenarnya itu kesombongan —kesombongan yang tentu saja tak diniatkan. Dan kesombongan itu ikut menenggelamkan banyak kapal yang seharusnya diselamatkan.

Sekarang, di pameran ini, saya diingatkan lagi.

Foto itu. Tahun 1996. Wajah-wajah yang kini telah pergi. Ada Mochtar Lubis di sana, H.B. Jassin, Hamsad Rangkuti, Ikranagara, Azwar Hamir…. Mereka tidak pernah membaca Jejak. Bukan karena mereka sombong, tapi karena Jejak belum belum lahir atau tak sampai pada mereka. Tapi andai mereka masih hidup, andai mereka membaca puisi Dian Rusdiana tentang Bekasi yang hangus terbakar, saya yakin Jassin akan bilang: ini penting. Simpan ini baik-baik.

Tapi kita (baca: saya) tidak menyimpan. Kita tidak punya pusat dokumentasi untuk buletin komunitas. PDS H.B. Jassin mungkin menyimpan Horison dengan rapi. Tapi Jejak? Saya ragu. Bukan salah PDS H.B. Jassin. Mereka juga terbatas. Maka, yang tersisa adalah ingatan yang rapuh.

Dan ingatan yang rapuh itu sungguh tidak cukup.

Saya membayangkan seorang siswa di Bekasi, dua puluh tahun yang akan datang, yang ingin menelusuri bagaimana kotanya berubah. Ia pergi ke perpustakaan. Ia mencari Jejak. Tidak ada. Ia mencari antologi Kepada Bekasi. Mungkin masih ada, terselip di rak seseorang, atau sudah lapuk dimakan waktu. Ia tidak akan pernah tahu bahwa pada 2013, sekelompok anak muda menulis: pada tanahmu yang memendam bara api, aku hangus terbakar. Ia akan mengira perubahan Bekasi terjadi begitu saja. Ia tidak akan tahu ada perlawanan sunyi dalam bentuk puisi.

Itulah tenggelam.

Bukan tenggelam secara fisik. Tapi tenggelam dari ingatan kolektif. Horison mungkin tidak akan tenggelam. Begitu banyak referensi, cukup banyak buku yang mengutipnya. Tapi Horison pun bisa tenggelam dalam arti lain: menjadi monumen yang dikunjungi sesekali, tapi tidak lagi bergerak, tidak lagi mengganggu, tidak lagi membuat orang tidak nyaman.

Dan itu lebih menakutkan daripada tidak terbit sama sekali.

Dasar Laut Kebudayaan

Barangkali sastra Indonesia selalu bergerak di antara dua nasib: menjadi merkurius atau menjadi jejak. Yang satu berkilau, memantulkan cahaya, bergerak cepat dari satu tangan ke tangan lain, dari pusat kebudayaan ke ruang-ruang legitimasi. Yang lain nyaris tak terlihat: tertinggal samar di tanah basah, mudah terhapus hujan, namun justru menandai bahwa seseorang benar-benar pernah berjalan di sana. Kita mengenang nama-nama besar, majalah-majalah besar, perdebatan besar, tetapi sering lupa bahwa kebudayaan tidak hanya dibangun oleh yang berkilau. Ia juga dibangun oleh jejak-jejak kecil yang tak sempat berubah menjadi monumen. Ya, ini masalah historiografi sastra Indonesia.

Di hadapan arsip, kita selalu percaya pada daya tahan. Arsip memberi kesan keabadian: kertas yang disimpan, edisi yang dijilid, dokumentasi yang dipelihara, foto yang dipigura, nama yang dicatat dalam bibliografi. Dokumentasi dan arsip adalah cara peradaban melawan kematian. Namun justru di situlah ironi bermula. Sebab tidak semua yang hidup sempat menjadi arsip, dan tidak semua yang terarsipkan benar-benar hidup. Banyak komunitas sastra yang pernah begitu bergairah kini hilang tanpa bekas: tidak terdokumentasi, tidak diteliti, tidak disebut dalam disertasi mana pun. Tetapi bukankah di ruang-ruang kecil yang hilang itu pernah lahir persahabatan, diskusi, pembacaan puisi, pertengkaran estetik, mimpi-mimpi kebudayaan, bahkan semangat untuk tetap menulis di tengah hidup yang nyaris tak memberi tempat bagi sastra? Yang tenggelam belum tentu tidak penting. Kadang-kadang justru yang paling menentukan adalah yang tak sempat didokumentasikan, tak sempat diarsipkan.

Kita juga terlalu sering membayangkan sejarah sastra sebagai deretan monumen. Ada nama-nama yang menjulang seperti mercusuar: majalah besar, tokoh besar, kota-kota besar. Semua tampak kokoh dalam panorama sejarah resmi. Tetapi sastra sesungguhnya tidak hanya hidup di dalam monumen. Ia bernapas di komunitas. Ia berdenyut dalam masyarakat. Di ruang kontrakan sempit tempat puisi dibacakan dengan pengeras suara seadanya. Di buletin fotokopian yang dibagikan dari tangan ke tangan. Di diskusi kecil yang pesertanya tak lebih dari sepuluh orang.

Monumen memberi kita kemegahan, tetapi masyarakat memberi kesejahteraan kehidupan. Monumen bisa bertahan di museum, namun komunitaslah yang membuat sastra tetap beredar sebagai pengalaman yang hidup dari dan bagi masyarakat. Seorang anak muda tiba-tiba merasa menyala ketika pertanyaannya tentang sebuah diksi dalam puisi menjadi bahan diskusi yang hangat dalam forum diskusi kecil. Seorang pelajar merasa bergairah ketika cerpennya menjadi bahan diskusi di antara eksponen komunitas. Di situlah komunitas sastra menyuntikkan darah pada kebudayaan. Di situlah kebudayaan terasa hidup dan relevan.

Dan seperti semua sejarah kebudayaan, sastra Indonesia juga dibangun oleh ketegangan antara pusat dan pinggiran. Jakarta terlalu lama dianggap sebagai pusat gravitasi sastra, seolah-olah legitimasi hanya lahir dari sana. Padahal di luar pusat, di kota-kota yang jarang disebut, orang-orang terus menulis, menerbitkan buletin kecil, menyebarkan puisi, menulis cerpen, membangun lingkaran baca, dan mempertahankan nyala yang sering kali bahkan tidak terlihat oleh sejarah nasional. Pinggiran bukan ruang kosong. Ia adalah ruang sunyi, tempat kebudayaan diam-diam bertahan hidup. Dan sering kali, justru dari pinggiranlah muncul energi yang menyelamatkan sastra dari kebekuan pusat.

Ada pula perbedaan yang menyakitkan antara yang terdokumentasi dan kehidupan yang hilang, yang terbit dan yang tenggelam. Sebagian majalah tersimpan rapi di perpustakaan; sebagian lainnya bahkan tak meninggalkan satu contoh pun. Sebagian besar nama tercatat dalam ensiklopedia sastra; sebagian lain hanya hidup dalam ingatan beberapa sahabat yang kini menua. Tetapi kebudayaan tidak bekerja hanya melalui dokumentasi. Ia juga bekerja melalui pengaruh-pengaruh yang tak terlihat: seorang penyair muda yang diam-diam tergerak setelah membaca puisi di buletin lokal; seorang siswa sekolah yang pertama kali merasakan hidupnya berarti karena namanya dimuat di halaman sastra komunitas; sebuah kota kecil yang menemukan kesadarannya sendiri melalui puisi-puisi yang ditulis tentang sungainya yang mengering atau sawahnya yang hilang. Banyak hal yang paling hidup dalam kebudayaan bahkan tidak sempat menjadi dokumen.

Karena itu, sejarah resmi selalu menyisakan kesunyian yang panjang. Ia mencatat yang besar, tetapi sering gagal mendengar yang rapuh. Ia menyusun garis besar perkembangan sastra, namun tidak selalu mampu menangkap getaran batin yang sesungguhnya membuat sastra tetap hidup di tengah masyarakat. Di luar sejarah resmi itu, ada memori budaya: ingatan kolektif yang berpindah dari percakapan ke percakapan, dari membaca puisi ke membaca puisi, dari komunitas ke komunitas. Memori budaya tidak selalu rapi. Ia tercecer, berserak, mudah pecah, mudah hilang. Ia rapuh. Namun justru karena rapuhnya ia manusiawi. Ia menyimpan bukan hanya nama dan tanggal, melainkan juga suasana, luka, harapan, dan cinta yang membuat orang bertahan menulis meskipun tahu mungkin tak akan pernah tercatat dalam sejarah. Dan, justru di dasar laut inilah kebudayaan kita hidup. Dan, justru karena itu ia tak tepermanai.

Dan mungkin di situlah makna terdalam pameran seperti ini: bukan sekedar merayakan yang berhasil bertahan, melainkan juga mendengarkan gema dari yang telah tenggelam. Sebab kebudayaan tidak hanya dibentuk oleh mereka yang menjadi monumen, melainkan juga oleh mereka yang pernah meninggalkan jejak kecil —lalu hilang tanpa suara. Dan jejak kecil yang tenggelam itu adalah nafas kebudayaan.

Maka sekarang, di depan foto tahun 1996 itu, saya tidak lagi bertanya siapa yang terbit dan siapa yang tenggelam. Saya hanya melihat wajah-wajah yang sudah pergi. Lalu mendengar, dari kejauhan, suara anak muda di Bekasi yang masih menulis —meskipun mungkin tidak pernah ada yang membacanya.

Sampai di sini saya harus berhenti. Bukan karena selesai. Tapi karena yang tak tepermanai tidak bisa dijelaskan lebih lanjut. Ia hanya bisa dirasakan. Atau dilupakan. []

Cinangka, 8 Mei 2026.

*Makalah disampaikan dalam Diskusi Publik Pameran 60 Tahun Majalah Horison “Yang Terbit, Yang Tenggelam” di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 10 Mei 2026. Pameran diselenggarakan oleh Perpustakaan Jakarta dan PDS H.B. Jassin.

Jamal D. Rahman.

Menulis puisi, kritik, dan esai tentang sastra, kebudayaan, dan Islam. Pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, dan mengajar sastra di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Menerima Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara dari Malaysia, 2016. Menyunting lebih dari 30 buku sastra, kebudayaan, dan Islam. Menghadiri forum-forum sastra di Malaysia, Singapura, Brunei Darusslaman, Iran, Jerman, Vietnam, Tunisia, dll. Dua bukunya baru saja terbit: Islam, Sastra, Pengetahuan: Pergulatan Wacana Kolonial Laut Banten dan Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern. Sementara itu, dua bukunya akan segera terbit: Secangkir Kopi Seorang Musafir: Esai-esai Sastra-Budaya dan Sejarah, Sastra, Pesantren: Pergumulan Budaya.

Tinggalkan Balasan