Yang Tirakat Nahun, yang Tak Mudik Lebaran

Tak semua santri mudik, pulang dari pondok untuk bisa berkumpul bersama keluarga pada momen Lebaran. Tak sedikit santri yang memilih tetap berada di pondok, salah satunya untuk menjalani tirakat nahun. Tradisi ini telah lama ada di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Memang, momen Lebaran selalu identik dengan kebahagiaan di mana hari tersebut merupakan momentum kembali bersama keluarga serta merajut silaturahmi yang mungkin sempat renggang oleh jarak dan kesibukan. Namun, di balik momen bahagia lebaran, beberapa orang justru memilih menahan diri dari kebahagiaan itu. Iya, benar, mereka adalah para santri yang melakukan tirakat nahun di pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Barangkali tirakat nahun menjadi istilah familiar bagi masyarakat pesantren. Santri yang nahun berarti santri yang menetap di pondok selama tiga tahun. Tidak jauh beda dengan yang ada di pondok lain, tirakat nahun di Lirboyo sendiri juga perlu adanya ijazah dari Masyayikh.

Di antara figur di Lirboyo yang tidak asing bagi para santri sowan meminta ijazah amalan-amalan adalah Agus H Subhan Basith Ya’qub, salah satu zuriyah dari keluarga KH Ya’qub bin KH Sholeh Banjarmelati. Demikian ini tanpa menafikan beberapa masyayikh sepuh lainnya yang juga dimintai ijazah nahun, seperti KH M Anwar Mashur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH An’im Falahuddin Mahrus, dan yang lainnya.

Pantangan tirakat nahun yang diijazahkan para masyayikh di Lirboyo pun beragam, berbeda antara satu masyayikh dengan yang lain. Ada yang mensyaratkan agar selama tiga tahun tidak boleh keluar area pesantren. Ada yang membolehkan keluar area pesantren selagi tidak pulang ke rumahnya sendiri. Bahkan ada juga yang mensyaratkan tirakat nahun sembari istikamah membaca selawat 1000 kali sehari, dan di malam Jumat sebanyak 10.000 kali.

Menariknya, di saat teman-teman lain pulang, berkumpul dengan keluarga, santri yang nahun lebih memilih tinggal dalam keheningan di pesantren yang, bagi sebagian orang, pilihan ini mungkin terasa berat. Bagaimana mungkin seseorang rela menahan rindu kepada orang tua, menunda kebahagiaan bertemu keluarga, hanya untuk tetap berada di lingkungan dengan rutinitas yang nyaris tidak berubah? Di titik itulah letak keistimewaannya. Dengan menjalankan tirakat nahun, seorang santri membentuk kesadaran diri untuk sabar menunda kenikmatan sesaat demi sesuatu yang lebih berarti kelak.

Mungkin memang tidak semua santri nahun memiliki latar belakang dan motivasi yang sama. Ada yang melakukannya karena keterbatasan biaya. Ongkos perjalanan yang tidak murah, kebutuhan keluarga yang mendesak, atau kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, membuat mereka memilih untuk tetap tinggal di pesantren. Hanya, alih-alih merasa terpaksa justru itu berubah menjadi keikhlasan. Bermula yang awalnya “tidak bisa pulang”, lambat laun menjadi “tidak ingin pulang” karena menemukan makna ketenangan hidup sesungguhnya saat di pesantren.

Di sisi lain, ada pula santri yang secara sadar memilih untuk menjalani tirakat nahun. Mereka memahami dalam tradisi keilmuan pesantren, tirakat adalah bagian dari proses pembentukan diri yang penting. Tirakat menjadi suatu cara melatih hati untuk fokus, sabar, dan istikamah.

Dalam hal ini, nahun menjadi salah satu bentuk tirakat bagi santri untuk dapat menahan rindu, menahan keinginan, dan menggantinya dengan kesungguhan dalam belajar dan mengabdi.

Di Pesantren Lirboyo sendiri, satu dawuh yang sering dijadikan motivasi oleh para santri untuk tirakat nahun berasal dari KH Ahmad Idris Marzuki, yang pernah berpesan: “Kamu kalau bisa jangan pulang ke rumah jika sebelum tiga tahun di pondok pesantren. Biasanya nanti kalau tidak jadi orang kaya ya istrinya cantik.”

Boleh jadi sekilas ungkapan ini terdengar remeh dan bahkan aneh. Tapi di balik dawuh itu, terdapat sebuah pesan akan pentingnya kesabaran dan ketekunan. Pikirkan saja, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Tiga tahun dapat menjadi fase pembentukan karakter, juga kesiapan ilmu bagi seorang santri yang sedang menimba ilmu di pesantren.

Sehingga, dawuh beliau di atas kiranya menjadi semacam “isyarat baik” bahwa kesungguhan dalam tirakat tidak akan sia-sia. Entah dalam bentuk kecukupan materi atau kebahagiaan rumah tangga, hasilnya akan terasa pada waktunya.

Tirakat Nahun di Lirboyo

Hari-hari santri yang nahun di pesantren Lirboyo, terutama saat bulan Ramadan, bukanlah hari-hari yang kosong. Setiap waktu diisi dengan berbagai kegiatan bermanfaat yang mengisi hati dengan ilmu. Misalnya, saat bulan Syakban berakhir dan sebagian besar santri pulang, suasana pesantren memang menjadi lebih sepi dari santri. Dan, keheningan itu segera terganti dengan pengajian Ramadan yang diisi oleh segenap Masyayikh di Lirboyo.

Sebagian santri Lirboyo memanfaatkan momen ini untuk tabarrukan, yakni mengaji di pesantren lain atau mengikuti pengajian para masyayikh di Lirboyo sendiri yang membuka pengajian khusus Ramadan. Mereka berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mengambil ilmu dari para ulama, terkhusus para kiai sepuh, dengan harapan mendapatkan keberkahan dari beliau-beliau.

Ada pula yang memilih tetap di pesantren Lirboyo sendiri, memperdalam kitab-kitab yang belum sempat dikaji secara tuntas. Waktu yang sebelumnya terbagi dengan aktivitas lain kini bisa difokuskan sepenuhnya untuk belajar. Tidak sedikit juga yang menggunakan kesempatan ini untuk menghafalkan nazam-nazam pelajaran sebagai persiapan untuk tahun ajaran berikutnya. Hafalan yang mungkin terasa berat di tengah padatnya kegiatan, menjadi lebih ringan ketika suasana pondok lebih tenang.

Selain itu, aktivitas lain seperti murajaah, diskusi kitab, hingga khidmah kepada para guru menjadi rutinitas yang tak terpisahkan. Bahkan, dalam momen tirakat nahun itu, ada rasa bahagia yang tidak selalu dapat dirasakan oleh santri yang pulang, yakni kebahagiaan karena merasa dekat dengan guru.

Khusus di Pesantren HM Syarif Hidayatullah (HMS) Lirboyo, terdapat salah satu agenda rutin yang semakin mengisi waktu-waktu selama di bulan Ramadan, yaitu istighotsah yang dilaksanakan berdasarkan dawuh dari KH An’im Falahuddin Mahrus, yang mengajak para santri yang masih menetap di pondok hingga akhir Ramadan untuk mengikuti doa bersama.

Kegiatan ini dilaksanakan pada malam-malam ganjil, yakni malam 23, 25, 27, dan 29 Ramadan, bertempat di Maqbaroh Setono Gedong (Makam Syaikh Wasil). Amaliah yang rutin dibaca bersama adalah salat hajat berjamaah dan membaca Hizb Ahl al-Badar dengan kitab bernama Ashlul Qodar.

Fasilitas transportasi serta sahur bersama pun telah disediakan oleh zuriyah sebagai wujud adanya perhatian terhadap kegiatan tersebut. Dalam suasana malam yang tenang dan penuh doa, kegiatan bersama Abi An’im dapat dikatakan menjadi ruang refleksi diri yang lebih menghidupkan makna naun.

Penulis mengakui bahwa akan ada momen-momen di mana rasa rindu itu muncul. Seperti ketika malam takbiran tiba, ketika teman-teman mulai mengirim kabar dari kampung halaman, atau ketika aroma masakan khas Lebaran yang hanya bisa dikhayalkan, pada kondisi semacam itulah ujian hati benar-benar terasa.

Meski begitu, justru dalam momen-momen tersebut substansi tirakat nahun mendapatkan makna yang sesungguhnya. Sebab, dari tirakat nahun, santri selain belajar tentang rasa sabar tidak pulang juga belajar tentang bagaimana ia mampu berdamai dengan dirinya sendiri.

Satu pelajaran yang hendak penulis sampaikan dari adanya tirakat nahun ialah arti kebahagiaan tidak selalu identik dengan keramaian. Rasa bahagia bisa hadir dalam keheningan, dalam kesederhanaan, bahkan dalam keterbatasan. Menunda kebahagiaan sesaat demi tujuan yang lebih besar bukanlah kerugian, karena sebetulnya itu merupakan bekal kehidupan di masa mendatang.

Lebaran bagi santri nahun boleh jadi tidak diwarnai dengan hangatnya kumpul keluarga, dan rindu pun harus tertahan dalam diam yang tersampaikan sebatas melalui doa. Namun, di balik itu semua tersimpan proses pematangan diri yang menjadikan penantian tersebut penuh makna. Ketika saatnya tiba untuk kembali ke masyarakat, mereka selain pulang sebagai anak juga pulang sebagai pribadi yang lebih siap.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan