Kalimat itu sempat membuat saya terdiam lama. Saya merindukan sebuah tatanan digital yang berbeda, sebuah dunia di mana kebijaksanaan mengalir jernih dari bilik-bilik pesantren. Saya memimpikan jemari yang biasa membolak-balik kitab gundul itu, kini juga lincah menari di atas papan ketik, menenun kata demi kata untuk menerangi sudut-sudut gelap dunia maya.
Ah.. Apakah mungkin? Kapan santri mulai menulis?

Hari ini, pertanyaan retoris dan kerinduan yang membuncah itu menemukan jawabannya. Angka 5.000 itu bukan sekadar deretan digit mati di atas statistik. Ia adalah sebuah proklamasi, sebuah bukti autentik bahwa santri hari ini tidak hanya diam mengaji, tetapi juga bergerak menggoreskan pena.
Kata tulisan Mas Mukhlisin, tujuh tahun silam, ketika portal duniasantri.co pertama kali mengudara pada 17 Agustus 2019, tak ada yang berani membayangkan titik ini. Membujuk dan merayu para santri untuk menulis di awal gerakan adalah perjuangan keluar-masuk pesantren yang menguras energi. Namun kini, gairah itu telah menjelma menjadi air bah spiritual yang tak terbendung. Hingga detik ini, hampir 10.000 naskah—tepatnya 9.530—telah disubmit oleh para santri.
