Tertipu Pencuri yang Lihai

Orang bilang, zaman ini pencuri sudah lebih cerdik dari polisi. Pencuri tampak berevolusi dari waktu ke waktu. Kini para pencuri telah memakai otak kepalanya menjalankan aksinya. Mereka kian berkembang dan berlomba-lomba untuk menjadi pencuri andal.

Sedang polisi, tampaknya kecerdikan yang dimilikinya dari hari ke hari semakin melorot saja. Di antara mereka banyak yang ditipu oleh penipu. Bahkan, dicuri oleh pencuri. Mereka terlihat dungu di hadapan para politikus, namun sok pongah kala di hadapkan dengan pencuri. Mereka bersikap seolah detektif piawai dalam mencari jejak pencuri. Akan tetapi, acap kali kasus ditutup karena tak berjejak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tak heran apabila polisi zaman ini seperti itu. Sebab, banyak yang jadi polisi dengan menggunakan uang sogokan. Bermodal orang dalam dan uang ratusan juta, mereka bisa dengan gampang masuk ke ranah kepolisian. Hal-hal seperti itu memang masih ada di negeri ini. Polisi pun cari pengganti uang sogokannya dengan cara merampas uang rakyat. Maka, uang perdamaian saat tilang pun jadi bisnis. Dan tanpa surat perintah operasi, polisi akan berkeliaran di jalanan. Mereka seperti serigala yang mencari mangsa.

Kata orang, pencuri dan polisi bagai tikus dan kucing. Keduanya harus gesit dalam bertindak. Tikus harus berlari tangkas, kalau tak mau diterkam oleh kucing. Begitupun dengan kucing, ia harus berlari lebih kencang kalau tak mau mati kelaparan. Hidup memang adalah perlombaan. Siapa lemah, ialah yang disingkirkan.

***

Nyanyian binatang malam mulai menciptakan hiruk-pikuk di perkampungan. Angin senantiasa menerpa dedaunan agar ikut bergoyang-goyang. Bulan serupa perahu yang tegap dan tak goyah. Di sisi bulan, ada beribu gemintang yang menemani. Malam setengah larut, para pemuda berkumpul di pos ronda.

Ada sekitar lima orang yang berjaga malam ini. Masing-masing membawa sarung dan satu senter. Di antara mereka, ada yang sudah menudungkan sarungnya ke tubuhnya. Angin malam ini memang menciptakan kedinginan. Jadi tak heran, apabila tubuh mereka agak menggigil.

Mereka duduk melingkar. Salah satu orang datang dengan membawa setermos kopi. Ah, kopi memang nikmat di malam hari. Apalagi, kopi buatan ibu yang tak pernah ada tandingannya.

“Jangan sampai tim kita kebobolan malam ini,” ujar Anwar selaku pemimpin ronda di malam Selasa.

Para pemuda Kampung Bejo sepakat untuk meronda saban malam secara bergantian. Mereka dibagi jadi beberapa tim —ada sekitar tujuh tim— untuk meronda. Setiap tim berisi empat anggota dan satu pemimpin. Pemimpin wajib memandu anggotanya dalam halnya meronda, dan juga harus membawa kopi. Memang harus ada kalau mau menjadi pemimpin, begitulah kata para pemuda.

Pemimpin dipilih secara voting. Biasanya para pemuda memilih pemimpin yang agak mahir berbicara. Sebab bagi mereka, yang mahir bicara juga mahir dalam bidang apa pun, menipu misalnya.

“Tim lain kewalahan menangkap pencuri di kampung kita. Hingga akhirnya nyaris saban malam ada warga yang kemalingan,” kata Beni membawa berita.

Tinggalkan Balasan