Pencuri Permen

Sutopo sering mencuri permen di kios Haji Sanip. Bersama tiga teman, Sutopo selalu gemilang mencuri permen yang sebenarnya sanggup mereka beli.

Kadang anak 10 tahun itu merasa sungguh aneh, mengapa Haji Sanip yang mantan polisi yang seharusnya jeli menjaga keamanan tak sanggup menjaga hartanya sendiri?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski sejauh ini aman-aman saja, tetapi kadang Sutopo resah membayangkan dirinya tertangkap, diarak warga ke kantor polisi. Ia teringat pepatah yang diajarkan guru di ruang kelas bahwa, sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan jatuh jua.

Kadang langkah anak kelas 4 SD itu terasa berat bila teman-teman mengajaknya beraksi.

“Kamu takut?” pancing Harsono, teman yang mengajarinya mencuri permen.

“Tidak! Aku berani. Sendiri pun aku berani,” sahut Sutopo.

“Coba buktikan,” tukas Harsono.

“Baik. Kalian tunggu di sini!”

Sutopo celingak-celinguk di depan etalase kios Haji Sanip. Ada tiga etalase alumunium di kios itu. Dua etalase masing-masing panjang sekitar 1,5 meter berada dekat dinding barat dan dinding timur kios.

Satu etalase utama sepanjang sekitar 2,5 meter sebagai pembatas pembeli dengan pemilik kios. Di bagian atas etalase utama inilah letak berderet stoples berisi permen aneka rasa, biskuit, dan jajanan lain.

Di atas etalase utama ada kawat melintang tempat menggantungkan rencengan-rencengan kopi, susu, minuman serbuk, dan aneka jajanan dalam kemasan saset. Rencengan-rencengan itu kadang menghalangi keberadaan Haji Sanip. Sering lelaki tua itu muncul mendadak dari balik rencengan-rencengan.

Sutopo mengamati sebuah stoples di bagian atas etalase utama yang penuh permen aneka rasa. Tatapannya penuh waspada, memperhitungkan dengan cermat berapa permen yang akan mampu diraupnya.

“Mau beli apa?” Haji Sanip muncul tiba-tiba dari balik rencengan-rencengan minuman serbuk. Haji Sanip bertubuh tinggi besar dan memiliki sepasang mata besar seperti melotot.

Haji Sanip tinggal sebatang kara di rumah itu. Isterinya telah wafat, anak-anaknya merantau ke berbagai daerah. Konon, semasa masih aktif sebagai polisi, Haji Sanip pernah bertugas di Aceh, Papua, dan daerah konflik lainnya, hidup berhari-hari di hutan-hutan, sehingga kini hidup sebatang kara di rumah bukan masalah baginya.

Konon, kios itu semula adalah kamar, lalu Haji Sanip mengubahnya menjadi kios.

“A-anu, Pak Haji. Ada es batu?” Sutopo tergagap, bertanya.

“Ada. Berapa? Satu? Tunggu sebentar.”

Haji Sanip melangkah ke ruangan lain tempat lemari es berada. Entahlah, mengapa Haji Sanip menempatkan lemari es di ruangan lain? Tetapi itu malah menguntungkan bagi pencuri cilik macam Sutopo dan teman-teman. Itu waktu yang cukup bagi Sutopo untuk sigap memutar penutup stoples, mengambil beberapa permen, lalu menutup kembali stoples seperti semula.

“Apa lagi?” Haji Sanip kembali membawa satu bungkus es batu.

“Itu saja. Berapa, Pak Haji?”

Tinggalkan Balasan