Sutopo membelalak.
“Untuk saya, Pak Haji? Semua?”

“Ya,” senyum Haji Sanip semakin lebar. “Anak-anak selalu suka permen. Ini, terimalah.”
Tubuh Sutopo bergetar melihat mantan polisi di depannya itu tersenyum tulus. Napas Sutopo terasa sesak, lalu ia cium tangan Haji Sanip.
“Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih.”
Sutopo merasakan sepasang mata mungilnya menghangat.
***
Rumah kontrakan mereka yang baru berada di kampung lain. Jarak rumah itu dengan pasar kecamatan sekitar setengah jam naik motor. Sutopo pindah sekolah pula. Sutopo tak lagi bertemu Harsono dan kawan-kawan untuk beberapa lama.
Suatu siang di hari Minggu sekira pukul 10 ketika berada di toko pakaian ayah, Sutopo melihat Harsono melintas. Girang sekali mereka bersua, saling memukul ringan lengan. Mereka duduk di emperan toko, saling bertanya kabar. Tak lupa Sutopo bertanya kabar Haji Sanip dan kiosnya.
“Kamu masih suka mencuri permen di sana?” Sutopo berbisik, takut terdengar ayah dan ibu di dalam toko.
Harsono menggeleng.
“Mengapa? Kamu ketahuan?” tanya Sutopo.
“Sejak kamu pindah, Haji Sanip memindahkan semua stoples ke meja di tengah kios. Tak ada lagi stoples di etalase,” kata Harsono.
“Sejak aku pindah? Mengapa begitu?” tanya Sutopo.
“Mana aku tahu?” Harsono mengangkat bahu. Kawan lama itu beranjak dari emperan toko ketika melihat ibunya muncul dari dalam pasar.
Sebelum pergi, Harsono berbisik yang membuat dada Sutopo berdebur, “Mungkin saja Haji Sanip tahu kalau anak-anak suka mencuri permen!”
***
Bertahun-tahun kemudian Sutopo telah lulus kuliah Manajemen, membuka toko kelontong, menikah, lalu mengontrak rumah sederhana.
Masih dalam suasana pengantin baru, Sutopo dan istri beberes rumah.
Sang istri menemukan koper usang, lalu meminta izin Sutopo untuk membukanya.
“Silakan. Isinya hanya setumpuk pakaian masa kecilku dan benda sederhana lainnya,” jawab Sutopo.
Sang istri membuka koper usang itu. Benar, ia menemukan beberapa celana pendek, hem, kaus berukuran kecil, dan ….apa ini?
Sepasang mata sang istri menyipit ketika membuka plastik hitam di pojok koper.
“Permen siapa ini, Mas Topo?”
