Kasih Sayang Ibu untuk Anaknya

Lima tahun lalu, kau Umayah, istriku, menghadiahiku anak perempuan yang pertumbuhannya makin hari makin sejuk untuk dipandang. Seiring usia anak kita yang sudah berumur lima tahun, anakku mulai aktif bermain dengan mainan-mainan yang kubuatkan dari kayu; ada harimau-harimauan yang kuwarnai coklat yang sengaja kubuatkan dari pelepah janur siwalan muda. Lima tahun lalu, kau, istriku, memintaku untuk memberi nama Fatimah pada anak itu, dan aku menyetujuinya tidak lain sebagai bentuk rasa terima kasihku padamu.

Sekarang, anak itu sudah bersekolah di tingkat pendidikan usia dini. “Kelak kita sekolahkan anak kita di tempat aku sekolah dulu ya, Mas!” ucapmu tempo dulu. Setiap pagi selepas urusan beberes rumah selesai, kau antar anak kita ke Kiai Syansuddin, gurumu dahulu, guna mengais pundi-pundi ilmu pengetahuan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terkadang bendungan air mata yang kubuat kokoh tak kuat menahan deras air, kala melihat dirimu mengusap cucuran keringat dahimu, ketika kelelahan menyergapmu perihal pekerjaan rumah dan anak kita yang mulai nakal sebagai anak kecil. Tak jarang kau memintaku untuk memijat punggungmu yang terasa nyeri ketika bersantai di ruang tamu kita. “Nanti kalau mau pergi ke pasar, belikan aku obat nyeri punggung ya, Mas!” pintamu saat aku asyik memijat dan memandang punggung indahmu.

“Anak kita sudah besar Mas, setelah pendidikan usia dini, akan kita sekolahkan ke mana?” tanyamu suatu ketika. Aku tak segera menjawab tanyamu waktu itu. Kau selalu memintaku untuk mempersiapkan peralatan anak kita yang sudah akan masuk sekolah dasar. Waktu itu, dengan sedikit rezeki lebih, kubelikan sepatu dan peralatan tulis-menulis untuk anak kita.

Ketika melihat anak kita, istriku, aku melihat masa depannya yang cerah. Aku melihat keceriaan yang sangat pada saat ia bermain mainan yang kau belikan sebagai ole-ole dari pasar tempo hari.

***

“Bun, aku mau seperti temanku, mengadakan acara selamatan di hari ulang tahun mereka,” pinta anak kita padamu, istriku. Kau tak menjawab “iya” pinta anak kita. Kau menjanjikan anak kita untuk mengadakan acara ulang tahun esok-esok hari. Aku bisa menebakmu, istriku, kau tampak keberatan untuk menuruti permintaan anak kita itu. Namun, kau juga tidak tega menolak permintaan anak tecinta kita, bukan?

Lama lepas itu, kau tampak lupa dengan permintaan anak kita. Kau sangat sibuk dengan urusan rumah, pekerjaan, dan menjajakan gorengan ke sekolah-sekolah dekat rumah kita. Tak pernah terpikir sedikitpun olehmu permintaan anak kita waktu itu.

Suatu ketika, usai anak kita pulang menunaikan kewajibannya di sekolah, di saat kau sedang berbaring menikmati halaman rumah bersama teh hangat di teras rumah kita, anak kita menggangu istirahatmu. Lagi-lagi, “Bun, Aku ingin seperti temanku, Imas, dia juga mengadakan acara ulang tahun. Temanku yang lain juga banyak mengadakan acara itu. Aku ingin seperti mereka!” berontak anak kita padamu.

Sehari setelah itu, anak kita terus bersikeras meminta mengadakan perayaan ulang tahun padamu. Apakah kau tidak kasihan melihat wajah anak kita yang penuh harap dengan bening cahaya di matanya, istriku?

***

Dalam salat dan doamu pada Tuhan, aku melihatmu tampak tak sengaja menjatuhkan air mata sambil menengadahkan tangan sembari memohon petunjuk pada Sang Sutradara. “Berikan aku jalan untuk memenuhi keinginan anakku ya Rabb, aku ingin membahagiakannya meskipun dengan acara kecil-kecilan,” mohonmu dengan suara yang parau di sepertiga malam.

Tinggalkan Balasan