Kita tahu, sejak masa yang jauh sebelum ada Indonesia, sebutan santri dialamatkan kepada siapa. Kalau minhum? Generasi milenial akan menyebutnya “toko sebelah”. Dengan itu, saya hanya ingin menegaskan bahwa keduanya memang berbeda. Beginilah ceritanya.
Setahu saya, sedari dini seorang santri sudah diajari untuk khusnudzon, berprasangka baik. Dengan itu, setiap orang harus dianggap sebagai orang baik, bisa jadi ahli surga, sampai ada bukti sebaliknya. Bagaimana dengan minhum, toko sebelah? Entahlah bagaimana mulanya. Yang hampir pasti, semua orang dianggap dan dicurigai sebagai orang tak baik, bisa jadi ahli neraka, bukan sampai ada bukti sebaliknya, melainkan hingga ada bukti telah “hijrah”.

Selama mondok di beberapa pesantren, sebagai santri saya memperoleh pendidikan adab yang sama: khusnudzon. Kita tidak boleh punya prasangka yang tak baik kepada setiap liyan, orang lain, the others. Prinsipnya itu tadi: setiap orang harus dianggap dan diperlakukan sebagai orang baik sampai ada bukti sebaliknya.

pas banget. santri pasti mengalami posisi ini.