Ekstremisme: Bahaya Ngaji Tidak Bersanad

Ekstremisme merupakan fenomena yang telah menjadi perhatian global dalam beberapa dekade terakhir, terutama setelah serangkaian peristiwa tragis yang mengguncang dunia.

Ekstremisme bukan hanya mencakup tindakan kekerasan, tetapi juga ideologi yang keras dan kaku yang menolak keberagaman, menolak kompromi, dan mendukung cara-cara radikal untuk mencapai tujuan tertentu, sering kali dengan mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan yang mendasar. Di balik setiap tindakan ekstremis terdapat ideologi yang mendalam, keyakinan kuat, dan, sering kali, rasa ketidakpuasan atau ketidakadilan yang mendalam.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ekstremisme seringkali muncul di kalangan individu atau kelompok yang tidak memiliki pemahaman mendalam terhadap agama. Mereka cenderung memahami teks-teks agama secara literal tanpa mempertimbangkan konteks historis, sosial, dan budaya di balik ajaran tersebut. Pendekatan ini—yang sering kali mengabaikan esensi dan tujuan utama dari ajaran agama—dapat mendorong munculnya pandangan yang sempit dan eksklusif, dan akhirnya memicu sikap intoleran terhadap kelompok lain.

Di sinilah peran ngaji secara benar dan bersanad menjadi sangat penting. Dalam tradisi sanad, santri diajarkan untuk memahami ajaran agama dengan mempertimbangkan berbagai aspek kontekstual yang relevan, yang membantu mereka untuk menghindari pemahaman yang kaku dan ekstrem.

Ngaji Bersanad

Ngaji bersanad adalah tradisi keilmuan dalam Islam yang sangat penting dan telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi ini mengedepankan pembelajaran yang berkesinambungan melalui jalur guru yang memiliki otoritas keilmuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tinggalkan Balasan