Surat Ketujuh: Kepada Umbu Landu Paranggi (10 Agustus 1943-6 April 2021)

Umbu, surat ini saya tulis bukan karena saya ingin mengenang Persada Studi Klub atau mengulang-ulang nama-nama yang pernah kau bimbing di Malioboro. Saya tidak sedang ingin membahas Melodia, antologi puisimu yang lahir setelah kau memilih diam selama puluhan tahun. Surat ini juga bukan tentang puisi-puisi yang kau tulis di koran, lalu hilang ditelan arsip.

Umbu, saya menulis karena terlalu banyak suara sekarang, dan terlalu sedikit yang tahu cara diam. Diam yang bukan pasrah, tapi diam yang membimbing. Kau tidak pernah hadir sebagai tokoh, tapi selalu ada sebagai jejak. Jejak yang tidak ingin dikenal, tapi tidak bisa dilupakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Jogja, kau membimbing Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Ragil Suwarna Praloapati, Iman Budi Santoso. Kau tidak mendirikan sekolah, tidak membuka kelas, tidak mencetak sertifikat. Tapi mereka tumbuh. Bukan karena metode, tapi karena kau hadir—secara konsisten dan misterius.

Kau ada di angkringan sepanjang Malioboro dan Alun-alun Utara, di bawah pohon beringin keramat keraton, di depan Hotel Mutiara Malioboro. Kau berjalan kaki dari Kota Gede hingga Jalan Kadipiro, seolah puisi bisa ditemukan di trotoar, bukan di ruang seminar.

Kau tidak bicara banyak, tapi kehadiranmu cukup membuat orang merasa sedang diuji. Kau tidak memberi teori, tapi arah. Dan arah itu bukan ke panggung, tapi ke dalam diri. Kau tidak pernah menyuruh orang jadi penyair, tapi entah bagaimana, mereka jadi penyair setelah duduk bersamamu.

Sekitar tahun 1975, kau meninggalkan Jogja. Katanya, kau sempat gundah: apakah akan ke Bandung, Surabaya, atau Malang? Tapi akhirnya kau memilih Bali. Bukan karena promosi pariwisata, tapi karena kau tahu: sunyi di sana lebih jujur. Dan di Bali, kau temui penyair-penyair muda yang kini karya-karyanya tak luput dari pembacaan sastra Indonesia.

Sekadar menyebut beberapa dari sekian banyak yang kau tempa: Putu Fajar Arcana, Raudal Tanjung Banua, Wayan Jengki Sunarta, Warih Wisatsana, hingga penyair-penyair yang tidak pernah kau sebut, tapi kau bentuk.

Tinggalkan Balasan