War Takjil, Toleransi dari Lapak Kaki Lima

War takjil setiap bulan Ramadan masih menjadi konten viral sosial media. Konten yang memperlihatkan fenomena berburu takjil ini selalu menjadi perhatian khusus. Sebab, tidak hanya dilakukan kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa. Masyarakat nonmuslim pun banyak yang berburu takjil.

Dari perburuan takjil itu tergambar toleransi antarumat beragama yang muncul dari lapak-lapak pedagang kaki lima yang menjajakan penganan untuk berbuka. Mereka adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Istilah “war takjil” merujuk pada momen berburu hidangan berbuka puasa yang ramai dan kompetitif, terutama di pasar Ramadan atau lapak dadakan menjelang maghrib.

Di beberapa kota, pemerintah telah memberikan fasilitas tempat khusus bagi pelaku UMKM untuk menjual berbagai takjil dan makanan lainnya, sehingga kepadatan pembeli tidak mengganggu aktivitas jalan raya. Seperti di Kota Pamekasan, Madura, terdapat food colony sebagai area khusus para pedagang kaki lima menjual dagangannya. Ataupun di Kota Jombang, Jawa Timur, yang telah disediakan area Jommbang Kuliner sebagai pusat para pedagang UMKM.

Tren war takjil ini mencerminkan keberkahan bulan Ramadan yang bisa dirasakan seluruh umat. Terlebih, sikap toleransi yang akhirnya bisa lahir dari atap penjual gorengan bahkan dari stand-stand penjual es teh atau es cendol.

Sebuah realita yang menegaskan bahwa toleransi aktif juga bisa diciptakan dengan tanpa sengaja dan menjadikan nuansa kehidupan yang penuh cinta antarumat beragama. Sebagaimana ditulis Otto Gusti Madung dalam Toleransi dan Diskursus Post-Sekularisme, bahwa toleransi agama memungkinkan keragaman dan dialog antaragama, menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis.

Di platform TikTok, konten-konten yang memuat tren war takjil menjelma menjadi fenomena digital yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga sarat makna sosial dan ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bagaimana Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang dinamis. Interaksi positif di kolom komentar juga memperlihatkan bahwa Ramadan menjadi momentum dialog kultural yang cair dan inklusif.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan