Kritik Psikologis atas Kekerasan Seksual di Pesantren

Pesantren selalu dipromosikan sebagai benteng moral masyarakat. Tempat lahirnya akhlak, kedisiplinan, dan pendidikan agama yang dianggap suci.

Di mata masyarakat, pesantren sering diposisikan sebagai ruang yang nyaris tanpa cela. Kiai dipandang penuh wibawa, ustaz dihormati tanpa syarat, dan santri diajarkan bahwa kepatuhan adalah jalan menuju keberkahan. Budaya hormat kepada guru memang penting dalam pendidikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masalah mulai muncul ketika penghormatan berubah menjadi ketundukan total yang menutup ruang berpikir kritis. Di titik itu, relasi pendidikan berubah menjadi relasi kuasa.

Kasus kekerasan seksual di pesantren menunjukkan satu kenyataan pahit yang selama ini sering ditutupi: ada sistem yang memungkinkan pelaku merasa aman di balik jubah agama. Persoalan ini terlalu sering disederhanakan sebagai ulah “oknum”.

Kalimat tersebut terdengar seperti cara paling praktis untuk mencuci tangan dari masalah yang sebenarnya jauh lebih besar. Padahal kalau kasus terus berulang di banyak tempat, pertanyaannya bukan lagi siapa pelakunya, melainkan sistem seperti apa yang membuat kekerasan bisa tumbuh diam-diam tanpa perlawanan berarti.

Teori kepatuhan Stanley Milgram membantu menjelaskan mengapa banyak korban tidak mampu melawan. Dalam eksperimennya, Milgram menunjukkan bahwa manusia dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani ketika diperintah figur otoritas. Orang rela menyakiti orang lain karena percaya bahwa pihak yang memerintah memiliki kuasa dan legitimasi.

Tinggalkan Balasan