Ketika Buya Menyusuri Jalan Cahaya

“Kebanyakan problem di dunia berasal dari kesalahan memahami bahasa dan dari pemahaman (pemikiran) yang sederhana. Jangan memaknai kata-kata secara literal semata.”— hal. 22

Sebagaimana buku Buya sebelumnya—Cinta Tak Pernah Mati di Kota Rumi—buku yang hadir kali ini pun berisi perjalanan Buya Husein menyusuri sebuah kota, namun dengan objek yang berbeda, yakni Kota Qadian. Sebuah kota yang berada di distrik Gurdaspur, Punjab, India. Wilayah ini terletak di utara India yang berbatasan langsung dengan Himalaya. Beliau mendapatkan undangan khusus untuk pergi ke sana bersama sang istri untuk menghadiri acara “Jalsah Salanah.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Qadian pada mulanya merupakan suatu wilayah kecil yang tak dikenal, namun setelah kelahiran dan kemunculan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, wilayah ini menjadi objek tujuan pengunjung dari berbagai negara.

Buya mengunjungi beberapa tempat sentra di sana, di antaranya Dar al Masih, Ghurfah Wiladah, Bait al Riyadhah, Dar al Baiat, Qashr al Khilafah, Masjid an Nur, Masjid al Aqsha, dan Bahisthi Maqbarah.

Tempat-tempat tersebut merupakan tempat bersejarah bagi muslim Ahmadi, dan memiliki kaitan penting dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Salah satunya, Masjid al Aqsha merupakan masjid terbesar dan tertua yang dimiliki oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah di India.

Usai melakukan perjalanan, Buya memberikan refleksi atas kunjungannya. Menyibak jalan cahaya yang tak banyak diketahui khalayak. Ketika acara Jalsah Salanah, Buya merefleksikan pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, pimpinan tertinggi Ahmadiyah/khalifah kelima.

Tinggalkan Balasan