Maka agama perlahan kehilangan salah satu kemampuannya yang paling agung: kemampuan untuk membuat maanusia mengoreksi dirinya sendiri. Padahal inti pertobatan bukanlah perubahan pakaian. Bukan pula perubahan simbol. Inti pertobatan adalah keberanian mengakui bahwa mungkin selama ini kita salah. Dan mengakui kesalahan adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan manusia.
Kita lebih suka mempertahankan keyakinan yang salah daripada kehilangan harga diri yang telah lama dibangun di atas keyakinan itu. Karena itulah agama yang sejati hampir selalu menuntut sesuatu yang tidak disukai ego. Ia meminta manusia merendah. Ia meminta manusia mengampuni. Ia meminta manusia mengalah. Ia meminta manusia melihat kekurangan dirinya sendiri sebelum melihat kesalahan orang lain.

Permasalahannya, ego selalu lebih menyukai agama yang memberi hak untuk menghakimi dibanding agama yang memerintahkan introspeksi. Menghakimi merasa kuat. Introspeksi terasa menyakitkan. Mengubah diri sendiri terasa melelahkan. Akibatnya, banyak orang begitu sibuk membersihkan dunia hingga lupa membersihkan dirinya. Mereka marah terhadap dosa orang lain, tetapi berdamai dengan kesalahan yang mereka lakukan setiap hari. Mereka berteriak tentang kebenaran, tetapi tidak pernah bertanya apakah teriakan itu lahir dari cinta kepada kebenaran atau sekadar cinta kepada dirinya sendiri.
Di titik ini agama berubah menjadi sesuatu yang aneh. Ia masih memakai bahasa Tuhan, tetapi yang dibela adalah ego manusia. Ia masih mengutip kitab suci, tetapi yang dikejar sebenarnya pembenaran diri. Ia masih berbicara tentang surga, tetapi yang dikejar sebenarnya adalah kemenangan.
Mungkin karena itulah sufi selalu terlihat berbeda. Mereka tidak terlalu sibuk membicarakan kesalahan dunia. Mereka lebih sibuk membicarakan kesalahan dirinya sendiri. Mereka tidak menganggap perjalanan menuju Tuhan sebagai perjalanan menaklukkan orang lain. Mereka menganggapnya sebagai perjalanan menaklukkan nafsunya sendiri. Bagi mereka, musuh terbesar manusia bukanlah orang kafir, bukan orang sesat, bukan pula kelompok yang berbeda. Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri ketika ia merasa telah mencapai puncak kesempurnaan.
