Agama Bukan Hanya Soal Keyakinan

Kini saya mulai memahami mengapa agama sering kali kalah oleh orang-orang yang mengaku membelanya. Kalimat ini mungkin terdengar aneh. Sebab, bukankah agama selalu memiliki pengikut? Bukankah rumah-rumah ibadah tetap penuh? Bukankah kitab-kitab suci terus dibaca, dikutip, dan diajarkan dari generasi ke generasi? Tetapi yang saya maksud bukan keberlangsungan agama sebagai institusi. Yang saya maksud adalah nasib agama sebagai pengalaman batin.

Sebab ada perbedaan yang sangat besar antara agama yang hidup di dalam jiwa dan agama yang hidup dalam slogan. Agama yang hidup dalam jiwa membuat seseorang lebih rendah hati. Agama yang hidup di dalam slogan membuat seseorang lebih mudah marah. Yang pertama melahirkan kesadaran antara keterbatasan manusia dan yang kedua melahirkan keyakinan bahwa dirinya adalah wakil Allah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Barangkali di sinilah tragedi terbesar agama dalam sejarah. Agama hadir untuk mengingatkan manusia bahwa mereka bukan Tuhan. Namun, berkali-kali agama justru dipakai manusia untuk bermain sebagai Tuhan. Mereka menentukan siapa yang layak masuk surga dan siapa yang pantas masuk neraka. Mereka membagi manusia menjadi golongan-golongan yang dianggap jauh darinya. Mereka berbicara tentang rahmat Tuhan dengan nada seorang hakim, bukan nada seorang hamba. Padahal seluruh tradisi keagamaan besar lahir dari prngalaman yang justru sebaliknya.

Seorang nabi tidak lahir dari kesombongan. Ia lahir dari keterkejutan atau ketakjuban. Ia terkejut oleh sesuatu yang lebih besar daripada dirinya. Musa berdiri gemetar di hadapan cahaya Ilahi. Isa berbicara tentang kasih kepada mereka yang dibenci. Muhammad menerima wahyu pertama dengan ketakutan yang mendalam, bukan dengan perasaan sebagai penguasa dunia. Pengalaman keagamaan pada mulanya bukan pengalaman menguasai, ia adalah pengalaman ditaklukkan. Ditaklukkan oleh kesadaran bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia.

Tetapi sejarah menunjukkan sesuatu yang menarik. Semakin jauh agama bergerak dari sumber pengalaman itu, semakin besar kecenderungan berubah menjadi sistem identitas. Dan ketika agama menjadi identitas, yang dipertahankan bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan kehormatan kelompok. Orang mulai membela agama sebagai mana membela bendera, klub sepak bola, atau partai politik. Yang penting bukan lagi apakah sesuatu itu benar, Yang penting adalah siapa yang mengatakan. Jika datang dari kelompok sendiri, ia dianggap benar bahkan sebelum dipikirkan. Jika datang dari kelompok lain, ia dianggap salah bahlan sebelum didengar.

Tinggalkan Balasan