TERUNTUK TEMANKU DAHULU DI PESANTREN (1)
Kita pernah mengeja takdir di bawah remang lampu
Begitu dekat, seperti embusan napas bersenyawa
Hingga kita percaya, persaudaraan ini
Adalah jembatan kokoh yang takkan runtuh oleh badai dunia

Namun itu dahulu
Lalu waktu berputar di pelataran sunyi
Tanpa aba-aba, tanpa ada yang mengucap selamat tinggal
Pertemanan kita telah melebur ke dalam langit-langit pesantren
Menjadi udara yang kita hirup tanpa tahu kapan ia bermula
