TERUNTUK TEMANKU DAHULU DI PESANTREN (1)
Kita pernah mengeja takdir di bawah remang lampu
Begitu dekat, seperti embusan napas bersenyawa
Hingga kita percaya, persaudaraan ini
Adalah jembatan kokoh yang takkan runtuh oleh badai dunia

Namun itu dahulu
Lalu waktu berputar di pelataran sunyi
Tanpa aba-aba, tanpa ada yang mengucap selamat tinggal
Pertemanan kita telah melebur ke dalam langit-langit pesantren
Menjadi udara yang kita hirup tanpa tahu kapan ia bermula
Dahulu, sekarang, dan nanti, kita adalah sepasang santri
Begitu dekat kita dahulu, sampai mengira pertemanan ini akan abadi,
namun entah siapa yang memulai
dan kapan ini terjadi,
pertemanan kita serasa tiada awal.
TERUNTUK TEMANKU DAHULU DI PESANTREN (2)
Dulu kita ingin sama-sama
Sama-sama berjuang
Sama-sama mengaji
Sama-sama tertawa
Sama-sama bahagia
Namun mengapa pada akhirnya kita tak sama-sama?
TERUNTUK TEMANKU DAHULU DI PESANTREN (3)
Jika saja kita bersepakat sejak dulu
untuk menemukan tanda titik pada persahabatan
yang melelahkan ini
Akhiri cerita santri dengan sederhana saja
Tak perlu ada drama perpisahan
Sia-sia telah bermuara menuju samudra kedewasaan
Kita berjalan membelakangi kiblat yang sama
menuju sunyi masing-masing
tanpa perlu saling menoleh lagi
karena kita tahu,
bertemu pun hanya akan memperpanjang
basa-basi yang hambar.
TERUNTUK TEMANKU DAHULU DI PESANTREN (4)
Dulu kita sekamar bercerita tentang umat
kini, menata hidup sendiri saja kita sekarat
Kita perlahan dihinggapi rayap kota menggerogoti
mimpi-mimpi santri yang mulai membusuk dan lembab
Hingga pada titik bosan yang mahadahsyatnya
saat ketimpangan ada di depan mata
kita tak bisa berbuat apa-apa
(yang paling parah)
kita tak mau berbuat apa-apa
Duduk di kedai kopi di dunia luar bersamamu saat itu,
menunggu petang tiba-tiba
membutatuli nurani
seperti biasa, sedari dulu
kita telah menjadi penonton yang patuh.
