Sebab pada saat itulah pintu kesombongan terbuka. Dan kesombongan selalu memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyamar sebagai kesalehan. Ia bisa memakai jubah ulama. Ia bisa memakai bahasa kitab suci. Ia bisa memakai wajah ahli ibadah. Tetapi hakikatnya tetap sama: keinginan untuk meninggikan diri. Padahal semakin dekat seseorang dengan Tuhan, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya.
Laut tidak pernah berisik tentang kedalamannya. Gunung tidak pernah berpidato tentang ketinggiannya. Matahari tidak pernah mengumumkan cahayanya. Mereka cukup menjadi apa adanya. Barangkali demikian pula iman. Iman yang matang tidak selalu tampak dalam banyaknya kata-kata. Ia tampak dalam cara seseorang memperlakukan manusia lain. Dalam kesabarannya ketika dihina. Dalam kejujurannya ketika tidak diawasi. Dalam kerendahannya ketika dipuji. Dalam kemampuannya untuk terus berbuat baik kepada orang yang tidak mampu membalas kebaikannya.

Sebab pada akhirnya agama bukanlah sekadar apa yang kita yakini tentang Tuhan. Agama adalah apa yang keyakinan itu lakukan terhadap diri kita. Jika setelah bertahun-tahun beragama seseorang menjadi lebih angkuh, lebih mudah membenci, lebih sulit mendengar, dan lebih gemar menghakimi, maka mungkin ada sesuatu yang keliru dalam cara ia memahami agamanya.
Karena pohon dikenal dari buahnya. Dan agama, sebagaimana pohon yang baik, seharusnya membuat manusia lebih manusia. Lebih lembut, bukan lebih kasar. Lebih bijaksana, bukan lebih pongah. Lebih penuh kasih, bukan lebih penuh dengan kebencian. Sebab jika Tuhan benar-benar Mahabesar, maka salah satu tanda paling nyata kedekatan dengan-Nya adalah kesadaran bahwa kita tidak pernah cukup besar untuk merasa menjadi Tuhan bagi sesama manusia.
