Pada titik tertentu, kita bisa saja terlihat lebih sibuk baik daripada benar-benar baik. Kita mulai memikirkan bagaimana sebuah kebaikan akan dilihat? Siapa yang akan melihat? Dan bagaimana orang lain akan menilai diri kita setelahnya.
Dari sinilah agama mulai menghdapai tantangan baru. Bukan karena media sosial membuat orang tidak bisa lagi beribadah dengan tulus, tetapi karena ruang digital membuat hampir semua hal mudah dipertontonkan. Sesuatu yang dahulu hanya menjadi urusan antara manusia dan Tuhannya, kini bisa berubah menjadi konsumsi banyak orang.

Kita tentu tidak bisa mengetahui niat seseorang dari apa yang ia unggah. Foto seseorang sedang bersedakah tidak otomatis ia riyak atau pamer. Unggahan tentang kajian juga tidak otomatis menunjukan bahwa ia sedang mencari pujian. Karena niat adalah sesuatu yang berada di dalam diri, bukan sesuatu yang bisa kita putuskan hanya dari layar.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada apa yang kita unggah. Kebiasaan menampilkan kebaikan juga perlahan dapat mempengaruhi cara kita memandang keberagamaan. Sesuatu yang semestinya menjadi bagian dari kehidupan bisa berubah menjadi bagian dari citra yang ingin kita bangun.
