Akhir Oktober, Temu Karya Serumpun Digelar di Jember

Menurut Akhmad Taufiq, penanggung jawab sekaligus kurator, capaian ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan edisi sebelumnya, Tanah Tenggara (2023), yang hanya menghimpun 744 puisi dari 246 penyair.

“Antusiasme penyair di kawasan Nusantara, terutama Asia Tenggara, sungguh luar biasa. Padahal, sebelumnya kami sempat khawatir partisipasi akan menurun karena padatnya kegiatan sejenis,” ujar Taufiq.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ia menambahkan bahwa peningkatan ini menjadi bukti kuat bahwa semangat kepenyairan lintas batas di Asia Tenggara masih hidup dan terus berkembang.

Lebih lanjut, Taufiq menjelaskan bahwa kurasi dilakukan dengan mengacu pada tema besar yang diangkat. Tema “Semesta Ingatan: Trauma dan Imaji Kebebasan lahir dari refleksi panjang atas berbagai tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung hingga kini, baik dalam skala lokal maupun global,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan ruang reflektif penyair yang merekam, mengamati, dan mengekspresikan penderitaan serta harapan manusia melalui estetika bahasa yang puitik.

Tinggalkan Balasan