Alumni Pesantren Nurul Qarnain Istighasah di Banyuwangi

Menertawakan dengan niat mengejek asmaul husna, atau mengejek seseorang dengan memakai salah satu asma Allah, seperti ungkapan, “Dasar Qahhar (asma Allah) maling sandal,” maka ini masuk kategori murtad qauli.

Menghina janji dan ancaman Allah, juga termasuk murtad qauli. Allah berjanji, “Bagi hambanya-Nya yang taat akan masuk surga.” Allah juga mengancam, “Hamba-Nya yang durhaka, akan dimasukkan ke neraka.” Jika kemudian terdapat orang yang tertawa sambil mengejek terhadap janji dan ancaman Allah tersebut, maka orang tersebut telah murtad qauli.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Makanya, hati-hati dengan gurauan yang sering dilontarkan santri saat diajak salat, ia menjawab ‘salat nomor dua dan salat bisa di langgar’. Maksudnya nomor dua sesudahnya syahadat. Salat bisa di langgar, maksudnya salat bisa dilaksanakan di langgar, di musala. Hati-hati, awas tergelincir. Bisa-bisa murtad qauli,” pesannya.

Lebih lanjut, KH Badrut Tamam juga mencontohkan kalimat-kalimat yang menyebabkan seseorang dinyatakan murtad qauli, yaitu perkataan orang yang mengatakan, “Buat apa naik haji, mending kalau punya uang banyak buat beli mobil saja, biar bisa buat gaya-gayaan.” Atau semisal perkataan santri di saat dibangunkan oleh pengurus ubudiyah, “Meskipun malaikat Jibril yang membangunkan saya untuk melaksanakan salat, saya tidak akan salat. Apalagi hanya kamu.”

2 Replies to “Alumni Pesantren Nurul Qarnain Istighasah di Banyuwangi”

Tinggalkan Balasan