Mitos Digitalisasi
Terakhir, kita perlu menyasar pada solusi instan yang sering ditawarkan: digitalisasi. Jujur, ini adalah sebuah pandangan yang naif karena masih begitu banyak kekurangan mengenai akses listrik dan internet di berbagai wilayah di Indonesia.

Data dari Kementerian ESDM dan PLN menunjukkan masih banyak kendala pada konsistensi aliran listrik di wilayah pelosok. Selain itu, pengamatan dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) per Mei 2026 menunjukkan bahwa masih ada sekitar 19,34% dari total penduduk Indonesia yang belum memiliki akses internet.
Data di atas menunjukkan bahwa digitalisasi sebenarnya bukanlah solusi instan yang bisa memecahkan masalah harga buku ini karena fasilitasnya belum memadai. Apa yang bisa kita harapkan jika fasilitas pendukung digitalisasi belum mencapai target signifikan untuk pemerataan akses informasi?
Di samping itu, secara kognitif, membaca di perangkat digital memiliki tantangan distraksi yang jauh lebih besar dibandingkan buku fisik. Lautan notifikasi dan godaan algoritma media sosial sering kali membuat aktivitas membaca menjadi dangkal.
Buku fisik menawarkan kedalaman dan fokus yang sulit direplikasi oleh layar. Saat harga buku fisik mahal dan rakyat dipaksa lari ke “gratisan” internet yang penuh hoaks serta informasi sepotong-sepotong, yang terjadi justru pendangkalan logika. Tanpa akses ke buku fisik yang terjangkau, kita justru bisa menciptakan masalah baru seperti fenomena brainrot atau kebusukan otak yang semakin meluas.
Pada akhirnya, ini semua membuktikan bahwa tingkat literasi rendah di Indonesia tidak sesederhana narasi bahwa warga kita malas. Justru, warga kita memiliki minat baca yang tinggi, tapi masalah sistemik ekonomi seperti harga buku yang mahal menjadikan akses mereka terhambat. Selama buku dianggap sebagai barang mewah yang harganya tidak sinkron dengan daya beli masyarakat, selama itu pula literasi hanya akan menjadi hak eksklusif mereka yang berdompet tebal.
Implikasinya pun jelas. Pemangku kebijakan perlu memperbaiki masalah sistemik ini jika ingin benar-benar mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat konstitusi.
