Festival Dunia Santri 2026 (1): Kepada KH Abdul Wahab Hasbullah

Kiai, dengan hormat dan takzim, surat ini saya tulis bukan semata-mata untuk berkabar tentang agenda Festival Dunia Santri 2026 yang insyaallah akan kami gelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum pada Juni 2026; tidak, Kiai, lewat surat ini saya juga ingin berbagi tentang sebuah kegembiraan kecil yang diam-diam tumbuh setiap hari di ruang redaksi duniasantri.co.

KH A Wahab Hasbullah.

Di tempat kecil itulah kami membaca tulisan para santri: esai-esai yang lahir dari kegelisahan, opini-opini yang mencoba memahami zaman, puisi-puisi yang tumbuh dari sunyi pesantren, dan cerpen-cerpen yang diam-diam membawa luka sosial masyarakat kita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ya, Kiai, para santri itu tidak hanya berbicara tentang fikih, kitab kuning, atau soal halal-haram sebagaimana banyak orang bayangkan. Mereka juga berbicara tentang kerusakan lingkungan, ketimpangan sosial, nasib petani, pendidikan yang mahal, demokrasi yang gaduh, hingga keresahan generasi muda yang hidup di tengah dunia digital yang bergerak terlalu cepat.

Mereka berbicara tentang Indonesia—negeri yang panjenengan perjuangkan dengan tubuh letih, dengan perjalanan panjang, dengan rapat-rapat kecil penuh kegelisahan, dan dengan doa-doa yang mungkin tidak pernah dicatat sejarah.

Kiai, di tengah dunia yang hari ini dipenuhi konten pendek, keributan algoritma, dan manusia-manusia yang lebih sibuk mengejar viral daripada makna, beberapa santri itu diam-diam masih ingin menulis, masih ingin membaca, masih ingin berpikir, dan masih ingin menjaga akal sehatnya sendiri; dan saya kira, di zaman ketika banyak orang lebih mudah terseret arus daripada menjaga kedalaman batin, keinginan sederhana seperti itu bukan lagi perkara kecil.

Sebab hari ini dunia bergerak terlalu bising. Orang-orang berbicara begitu cepat, tetapi jarang sungguh-sungguh mendengar. Semua orang ingin tampil, tetapi sedikit yang benar-benar ingin memahami. Bahkan ilmu kadang hanya dipakai sebagai alat memenangkan perdebatan, bukan untuk menerangi kehidupan.

Setiap kali membaca tulisan-tulisan mereka itu, saya merasa para santri sesungguhnya sedang berusaha mengamalkan ilmu dalam laku hidupnya sendiri. Mereka tidak berhenti pada hafalan matan, syarah, atau sekadar mampu membaca kitab di hadapan kiai, tetapi juga mencoba membawa ilmu itu turun ke kehidupan sehari-hari: ke persoalan masyarakat, kemiskinan, kerusakan lingkungan, ketidakadilan, hingga kegelisahan manusia modern yang makin jauh dari makna hidup. Mereka belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk disimpan di kepala, melainkan untuk menumbuhkan kepekaan hati dan keberanian memikirkan nasib umat dengan akal yang jernih.

Tetapi yang membuat saya bahagia, Kiai, para santri itu juga tidak kehilangan sikap kritisnya. Mereka tetap hormat kepada guru, tetap menjaga adab kepada ulama, tetapi pada saat yang sama berusaha memahami kenyataan zaman dengan pikiran yang terbuka. Mereka membaca kitab sambil membaca kehidupan. Mereka mengaji fikih sambil mencoba memahami penderitaan rakyat kecil. Mereka belajar tauhid sambil bertanya mengapa ketimpangan sosial terus terjadi.

Sebab dalam tradisi pesantren yang panjenengan wariskan, ilmu tidak pernah dimaksudkan untuk membungkam akal, melainkan untuk menerangi kehidupan dan menjaga nurani manusia agar tidak mudah tunduk kepada kekuasaan, keserakahan, dan kebodohan zaman.

Bahkan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) yang panjenengan perjuangkan bersama para ulama sepuh itu, kadang orang-orang lebih sering mendengar keributan daripada kebijaksanaan. NU yang dahulu lahir dari pergulatan ilmu, kegelisahan kebangsaan, dan ikhtiar menjaga umat, belakangan kerap terseret ke pusaran konflik kepentingan: dari polemik tambang, perebutan pengaruh, hingga hiruk-pikuk agenda muktamar yang kadang terasa lebih panas daripada musyawarah para kiai.

Orang-orang berbicara atas nama organisasi, saling mengklaim paling menjaga tradisi, saling membawa nama ulama, tetapi sering lupa bahwa yang paling dahulu harus dijaga justru adab; sebab tanpa adab, tradisi hanya tinggal simbol, dan nama besar ulama perlahan berubah menjadi sekadar alat untuk memenangkan keributan.

Tinggalkan Balasan