Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“إنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ”

Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambil ilmu itu, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Hadis ini menegaskan bahwa warisan sejati dari seorang ulama bukanlah harta, kedudukan, atau bangunan fisik, melainkan ilmu yang ia ajarkan dan akhlak yang ia wariskan dengan keteladanan.
Kemuliaan yang sering dinisbatkan kepada anak kiai sejatinya bukan karena dirinya semata, melainkan karena ia adalah anak dari seorang guru. Terkadang penghormatan itu datang dari para santri ayahnya, yang memang diajarkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim untuk menghormati guru dan keluarganya.
Namun, hal ini tidak bisa serta-merta menjadikan seorang anak kiai merasa layak untuk dihormati. Hormat itu tidak diwarisi; ia harus diperjuangkan lewat akhlak, keteladanan, dan kelayakan pribadi. Sebab yang diwarisi sejatinya adalah amanah, bukan kedudukan.
Hal ini pun pernah menjadi pembahasan di kelas kami kala itu
بِجِدٍّ لا بِجَدٍّ كُلُِ مَجْدٍ، فَهَلْ جَدُّ بلا جِدٍّ كُلُّ مَجْدٍ؟
Artinya: “Dengan kesungguhan, bukan dengan garis keturunan, seseorang meraih kemuliaan. Maka, apakah kemuliaan bisa diraih hanya dengan nasab tanpa kesungguhan?”
Syair itu seakan menyadarkan kami bahwa kemuliaan dan kesuksesan itu bisa diraih kalau kita mau berjuang. Menjadi perintis ataupun pewaris, keduanya sama-sama membutuhkan perjuangan. Dulu, bentuk perjuangan yang kami tau adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Tapi setelah terjun ke masyarakat, kami sadar yang lebih dibutuhkan bukan hanya ilmu, tapi juga teladan.
