Apakah Kita Beragama Karena Kebenaran atau Karena Tradisi?

Namun, keliru jika kita mengira kegelisahan radikal ini hanya monopoli filsafat Barat. Berabad-abad sebelum Descartes meragukan eksistensinya dan Kierkegaard mencibir masyarakatnya, sang Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali, telah mengalami krisis epistemologis yang nyaris menghancurkannya.

Dalam karya autobiografis monumental, Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan), Al-Ghazali mencatat observasi sosiologis yang provokatif: ia melihat anak-anak Yahudi tumbuh memeluk agama Yahudi, Nasrani menjadi Nasrani, dan anak-anak Muslim tumbuh menjadi Muslim murni karena indoktrinasi lingkungan dan asuhan orang tua mereka.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Fakta empiris ini menyiksa nurani intelektual Al-Ghazali. Ia sadar betul bahwa memeluk Islam sekadar karena kebetulan lahir dari rahim seorang Muslim adalah praktik taqlid (taklid buta). Al-Ghazali menolak mutlak budaya taqlid dan menyimpulkan bahwa agama yang bertumpu pada warisan leluhur tidak akan pernah sanggup membawa manusia pada pencerahan sejati atau tingkat yaqin (kebenaran absolut).

Demi menemukan Tuhan, Al-Ghazali melakukan tindakan ekstrem: melepaskan jabatan prestisiusnya di Universitas Nizamiyyah, membuang keyakinan dogmatisnya sementara waktu, dan memilih jalan pengembara sufi. Ia membongkar habis bangunan pengetahuannya dari nol, hingga akhirnya menemukan kebenaran sejati melalui pengalaman spiritual yang langsung (kasyf).

Bagi Al-Ghazali, madu kebenaran harus dicicipi secara personal (dzauq), bukan semata-mata dihafalkan dari lembaran teks klasik tanpa penjiwaan.

Fakta bahwa tokoh sekaliber Al-Ghazali dan pemikir Barat menolak keras “agama tradisi” seharusnya menampar kesadaran beragama kita di era modern. Saat ini, kita menyaksikan agama mengalami kebangkrutan makna dan direduksi menjadi kebanggaan identitas kelompok belaka. Ironi paling menjijikkan dari fenomena ini adalah lahirnya standar ganda: umat beragama zaman sekarang jauh lebih mudah mengamuk dan melakukan mobilisasi massa ketika simbol artifisial agamanya dilecehkan, namun mereka bisu dan buta ketika nilai-nilai fundamental agama—seperti keadilan sosial, kejujuran, dan pembelaan terhadap kaum miskin—diinjak-injak oleh elit korup yang ironisnya seagama dengan mereka.

Mengapa patologi ini subur? Jawabannya sederhana: karena yang dipertahankan mati-matian bukanlah esensi Kebenaran Ilahi, melainkan sekadar ego tribalisme. Beragama tanpa pencarian hanya melahirkan fanatisme dangkal, klaim kesucian yang narsistik, serta kebencian irasional terhadap siapapun yang berbeda. Sebaliknya, agama yang dipeluk melalui jalan pencarian selalu melahirkan kerendahan hati. Seseorang yang telah bertarung dengan keraguannya sadar betapa kecilnya akal manusia di hadapan kemutlakan Tuhan.

Tinggalkan Balasan