Apakah Kita Beragama Karena Kebenaran atau Karena Tradisi?

Mari kita mulai dengan sebuah eksperimen pikiran yang mungkin membuat Anda merasa tidak nyaman: Jika secara acak dilahirkan di sebuah desa terpencil di pedalaman Tibet, atau di jantung negara Vatikan, atau di pemukiman padat bantaran Sungai Gangga, apakah Anda masih akan meyakini, membela, dan menyembah Tuhan yang sama persis dengan yang Anda sembah hari ini?

Realitas objektif yang paling sering kita sangkal dengan penuh kemunafikan adalah bahwa bagi mayoritas mutlak umat manusia, agama bukanlah hasil dari pencarian kebenaran filosofis yang berdarah-darah. Sebaliknya, agama tidak lebih dari sekadar “lotre geografis” dan warisan biologis. Kita beragaman semata-mata karena orang tua kita beragama. Kita rajin bersujud, merapalkan doa, merayakan hari besar agama, dan rela berteriak membela nama Tuhan di jalanan, sering kali bukan karena kita telah bersentuhan langsung dengan esensi kebenaran, melainkan karena kita mematuhi tradisi komunal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Agama, pada titik sosiologis ini, mengalami reduksi tragis menjadi sekadar identitas bawaan—sebuah Kartu Tanda Penduduk pada kolom agama yang menempel sejak pendataan.

Filsuf eksistensialis Barat, Søren Kierkegaard, pernah melontarkan kritik tajam terhadap masyarakat Eropa abad ke-19. Ia menyebut mereka hidup dalam ilusi Christendom—sebuah kekristenan kultural di mana agama menjadi gaya hidup sosial dan kehilangan daya magisnya.

Bagi Kierkegaard, beragama karena mengikuti arus mayoritas yang aman adalah penghinaan terhadap iman. Iman autentik tidak bisa diwariskan secara otomatis lewat akta kelahiran. Iman menuntut sebuah “lompatan” (leap of faith), yakni pergulatan eksistensial individual yang sunyi, penuh keraguan, dan terisolasi dari sorak-sorai massa. Jika keyakinan Anda tidak pernah membuat Anda gelisah di tengah malam, tegas Kierkegaard, Anda sejatinya tidak sedang beriman; Anda hanya beradaptasi dengan lingkungan.

Senada dengan hal itu, Friedrich Nietzsche mengkritik keberagamaan pasif ini sebagai manifestasi dari “moralitas kawanan” (herd morality), di mana manusia terlalu pengecut mendefinisikan nilai kebenarannya sendiri dan berlindung di balik dogma massa.

Dalam rasionalisme, René Descartes memberikan prinsip de omnibus dubitandum (segala sesuatu harus diragukan). Jika kita tidak memiliki keberanian meragukan secara radikal keyakinan yang dijejalkan sejak masa kanak-kanak, kita tidak akan tiba pada fondasi kebenaran yang kokoh. Agama yang bersembunyi dari kerasnya benturan rasio pada hakikatnya lumpuh.

Namun, keliru jika kita mengira kegelisahan radikal ini hanya monopoli filsafat Barat. Berabad-abad sebelum Descartes meragukan eksistensinya dan Kierkegaard mencibir masyarakatnya, sang Hujjatul Islam, Abu Hamid Al-Ghazali, telah mengalami krisis epistemologis yang nyaris menghancurkannya.

Dalam karya autobiografis monumental, Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan), Al-Ghazali mencatat observasi sosiologis yang provokatif: ia melihat anak-anak Yahudi tumbuh memeluk agama Yahudi, Nasrani menjadi Nasrani, dan anak-anak Muslim tumbuh menjadi Muslim murni karena indoktrinasi lingkungan dan asuhan orang tua mereka.

Fakta empiris ini menyiksa nurani intelektual Al-Ghazali. Ia sadar betul bahwa memeluk Islam sekadar karena kebetulan lahir dari rahim seorang Muslim adalah praktik taqlid (taklid buta). Al-Ghazali menolak mutlak budaya taqlid dan menyimpulkan bahwa agama yang bertumpu pada warisan leluhur tidak akan pernah sanggup membawa manusia pada pencerahan sejati atau tingkat yaqin (kebenaran absolut).

Demi menemukan Tuhan, Al-Ghazali melakukan tindakan ekstrem: melepaskan jabatan prestisiusnya di Universitas Nizamiyyah, membuang keyakinan dogmatisnya sementara waktu, dan memilih jalan pengembara sufi. Ia membongkar habis bangunan pengetahuannya dari nol, hingga akhirnya menemukan kebenaran sejati melalui pengalaman spiritual yang langsung (kasyf).

Bagi Al-Ghazali, madu kebenaran harus dicicipi secara personal (dzauq), bukan semata-mata dihafalkan dari lembaran teks klasik tanpa penjiwaan.

Fakta bahwa tokoh sekaliber Al-Ghazali dan pemikir Barat menolak keras “agama tradisi” seharusnya menampar kesadaran beragama kita di era modern. Saat ini, kita menyaksikan agama mengalami kebangkrutan makna dan direduksi menjadi kebanggaan identitas kelompok belaka. Ironi paling menjijikkan dari fenomena ini adalah lahirnya standar ganda: umat beragama zaman sekarang jauh lebih mudah mengamuk dan melakukan mobilisasi massa ketika simbol artifisial agamanya dilecehkan, namun mereka bisu dan buta ketika nilai-nilai fundamental agama—seperti keadilan sosial, kejujuran, dan pembelaan terhadap kaum miskin—diinjak-injak oleh elit korup yang ironisnya seagama dengan mereka.

Mengapa patologi ini subur? Jawabannya sederhana: karena yang dipertahankan mati-matian bukanlah esensi Kebenaran Ilahi, melainkan sekadar ego tribalisme. Beragama tanpa pencarian hanya melahirkan fanatisme dangkal, klaim kesucian yang narsistik, serta kebencian irasional terhadap siapapun yang berbeda. Sebaliknya, agama yang dipeluk melalui jalan pencarian selalu melahirkan kerendahan hati. Seseorang yang telah bertarung dengan keraguannya sadar betapa kecilnya akal manusia di hadapan kemutlakan Tuhan.

Kebenaran sejati tidak bisa diwariskan layaknya sebidang tanah; ia menuntut untuk dicari dan direbut. Selama kita beragama murni karena nasib genetis, ritual ibadah kita hanyalah gerak-gerik sosiologis yang miskin makna. Inilah saatnya memiliki keberanian intelektual untuk mempertanyakan keyakinan kita, menelanjanginya dari selimut dogma tradisi yang membeku. Tuhan semesta alam tidak membutuhkan histeria pembelaan dari para penganut yang membeo.

Sebab pada akhirnya, Tuhan yang berhasil ditemukan setelah seseorang berani melewati badai pemikiran kritis dan keraguan, akan terasa jauh lebih hidup dan berdaya ubah dibandingkan sekadar Tuhan dari dongeng penghantar tidur orang tua kita.

Daftar Pustaka

Al-Ghazali, Abu Hamid. (2012). Penyelamat dari Kesesatan. Jakarta: Penerbit Zaman.

Hardiman, F. Budi. (2007). Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kierkegaard, Søren. (2016). Takut dan Gemetar. Yogyakarta: Penerbit Basabasi.

Madjid, Nurcholish. (1992). Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Sumber ilustrasi: istock.

Tinggalkan Balasan