ARKEOLOGI DI JALAN TOL

ARKEOLOGI DI JALAN TOL

Di layar ponsel yang meredup
data trafik mengalir seperti nadi yang tersumbat;
ribuan kendaraan bergerak dalam sinkronisasi yang dipaksakan
membentuk semacam orkestra besi yang bising dan melankolis.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita sedang melakukan perjalanan pulang
atau lebih tepatnya: melakukan ekskavasi atas masa lalu yang sengaja dikubur
di balik kesibukan ibu kota.
Ini bukan sekadar mudik
adalah ziarah ke sebuah titik koordinat di mana waktu seolah enggan beranjak.
Di sepanjang jalan tol yang membelah bukit dan sawah
melewati spanduk-spanduk berisi janji politik yang sudah mulai memudar
yang warnanya justru tampak lebih jujur dibanding janji-janji kita sendiri saat merantau dulu.

Kita adalah pengembara yang membawa koper berisi pakaian dan tumpukan kegagalan yang disamarkan
berharap rumah
; sebuah entitas yang perlahan menjadi asing karena jarak
masih sudi menyimpan sisa-sisa ingatan masa kecil di dalam lemari yang engselnya sudah berderit.
Ada semacam ketakutan kolektif yang tertangkap lensa dasbor mobil
: ketakutan bahwa saat kita tiba di kampung halaman
rumah itu bukan lagi rumah
melainkan museum tempat kita menaruh potret diri
yang sudah tidak lagi kita kenali.

Kita mencari aroma tanah basah
suara azan yang memantul di dinding masjid tua
atau sekadar kopi kental yang disajikan ibu dengan tangan yang gemetar oleh usia.
Namun yang ditemukan justru perubahan
tak bisa lagi dibendung oleh nostalgia.

Di kursi kemudi
kau menatap spion bukan untuk melihat kendaraan di belakang
melainkan memastikan bahwa bayangan masa lalu tidak benar-benar mengejar.
Kita berupaya melunasi utang memori
seolah dengan mudik
kita bisa menghapus satu bab dari riwayat panjang tentang bagaimana dunia telah mengubah kita menjadi orang lain.
Tapi lihatlah: bahkan di tengah kemacetan yang merampas kewarasan ini

kita tetap memilih untuk melaju

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan