ARKEOLOGI DI JALAN TOL
Di layar ponsel yang meredup
data trafik mengalir seperti nadi yang tersumbat;
ribuan kendaraan bergerak dalam sinkronisasi yang dipaksakan
membentuk semacam orkestra besi yang bising dan melankolis.

Kita sedang melakukan perjalanan pulang
atau lebih tepatnya: melakukan ekskavasi atas masa lalu yang sengaja dikubur
di balik kesibukan ibu kota.
Ini bukan sekadar mudik
adalah ziarah ke sebuah titik koordinat di mana waktu seolah enggan beranjak.
Di sepanjang jalan tol yang membelah bukit dan sawah
melewati spanduk-spanduk berisi janji politik yang sudah mulai memudar
yang warnanya justru tampak lebih jujur dibanding janji-janji kita sendiri saat merantau dulu.
Kita adalah pengembara yang membawa koper berisi pakaian dan tumpukan kegagalan yang disamarkan
berharap rumah
; sebuah entitas yang perlahan menjadi asing karena jarak
masih sudi menyimpan sisa-sisa ingatan masa kecil di dalam lemari yang engselnya sudah berderit.
Ada semacam ketakutan kolektif yang tertangkap lensa dasbor mobil
: ketakutan bahwa saat kita tiba di kampung halaman
rumah itu bukan lagi rumah
melainkan museum tempat kita menaruh potret diri
yang sudah tidak lagi kita kenali.
Kita mencari aroma tanah basah
suara azan yang memantul di dinding masjid tua
atau sekadar kopi kental yang disajikan ibu dengan tangan yang gemetar oleh usia.
Namun yang ditemukan justru perubahan
tak bisa lagi dibendung oleh nostalgia.
Di kursi kemudi
kau menatap spion bukan untuk melihat kendaraan di belakang
melainkan memastikan bahwa bayangan masa lalu tidak benar-benar mengejar.
Kita berupaya melunasi utang memori
seolah dengan mudik
kita bisa menghapus satu bab dari riwayat panjang tentang bagaimana dunia telah mengubah kita menjadi orang lain.
Tapi lihatlah: bahkan di tengah kemacetan yang merampas kewarasan ini
kita tetap memilih untuk melaju
sebab sejauh apapun membangun gedung-gedung tinggi di tanah rantau
pada akhirnya,
pulang adalah satu-satunya cara memverifikasi fakta
bahwa kita pernah memiliki akar
meski kini tertimbun oleh beton-beton jalan tol yang dibangun atas nama kemajuan
yang tak pernah benar-benar menanyakan kabar kita.
REKONSILIASI DI AMBANG SUBUH
Pagi belum benar-benar terjaga
namun radio sudah menyiarkan debat tentang krisis yang tak kunjung usai.
Aku menatapmu yang masih bergelut dengan mimpi
wajahmu adalah peta yang paling jujur dibanding seluruh grafik yang disajikan surat kabar edisi Minggu.
Ada garis-garis halus di sudut matamu
seperti jejak pena yang terlalu sering mengoreksi naskah hidup yang berantakan.
Aku tidak butuh wawancara eksklusif untuk memahami kenapa kau lelah
cukup dengan melihat bagaimana kau memeluk bantal
aku tahu bahwa kau sedang berperang melawan ketakutan yang tak pernah masuk daftar headline.
Kita adalah dua orang yang mencoba merakit ulang pecahan cangkir yang jatuh
di sebuah rumah dengan dinding penuh retakan
namun tidak pernah merasa perlu memanggil tukang cat
Sebab luka ini adalah bukti
bahwa kita pernah benar-benar ada di sini
di tengah dunia yang makin gemar menghapus jejak manusia demi efisiensi yang dingin.
CATATAN DI MARGIN SURAT KABAR YANG TERLIPAT
Negara ini dibangun dari angka-angka statistik yang dingin
tapi di meja makan
sejarah hanyalah sisa kopi yang mengering—
membentuk pulau-pulau kecil
tanpa bendera
tanpa armada.
Berita utama hari ini tidak mencatat bagaimana
caramu memandang jendela
seolah mencari pelabuhan
di tengah kota yang bising oleh janji dan klakson.
Di sini,
aku ingin menulis tentangmu seperti Tempo menulis skandal:
tajam, liris, dengan sedikit aroma pengkhianatan waktu.
Atau seperti Kompas yang tabah menghitung duka
menyusun kalimat-kalimat panjang agar luka tak tampak telanjang.
Tapi jemariku berlabuh pada gaya khas Adiebia
; menemukan puisi pada retak piring
pada kancing baju yang lepas
pada kesunyian yang lebih riuh dari sidang parlemen.
Tuan,
kita adalah dua orang yang selamat dari berita-berita besar.
Tak butuh infografik untuk menjelaskan mengapa
detak jantungmu lebih penting dari fluktuasi mata uang
Sebab di balik setiap putusan kebijakan di gedung tinggi
ada ruang tamu yang remang
tempat kita mencoba menjadi manusia
tanpa perlu menjadi pahlawan.
Mari biarkan koran itu menguning di sudut ruangan
esok, kita tetap menjadi cerita yang tak butuh editor
ditulis dengan tinta ketulusan
di atas kertas yang rapuh
namun tidak pernah benar-benar bisa dihancurkan.
LOG NAVIGASI: 15 MARET DAN SEBUAH KEDAULATAN KECIL
Ada sesuatu yang presisi pada cara 15 Maret mendarat di atas meja kali ini
Ia tidak datang dengan riuh peluit kapal
melainkan menyelinap di sela suara azan Maghrib yang membelah langit kota:
duduk di sana, di antara aroma hidangan berbuka yang sederhana
dan pendar lampu jalanan yang mulai menyala di balik jendela
seperti sebuah rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang tahu cara membaca peta.
Dunia mungkin sibuk mencatat angka sebagai beban
namun di sini kita sedang bicara soal perluasan wilayah.
Menatapmu bukan seperti menatap lilin yang bersiap padam
melainkan mengamati seorang nakhoda menyesuaikan kompas secara diam-diam
di tengah malam yang paling sunyi.
Tidak ada guncangan
tidak ada kepanikan;
hanya ketenangan berbobot dari laki-laki
yang tahu bahwa ombak paling tinggi pun
tidak akan pernah bisa merobohkan rumah yang fondasinya dibangun dari ketulusan.
Kau kini tengah memantapkan navigasi
setiap garis samar di wajahmu adalah rute baru
yang berhasil kau amankan dari badai kebisingan di luar sana.
Dan inilah cara kita merayakannya: tanpa protokol, tanpa tajuk rencana yang berlebihan
cukup dengan duduk berdua dan menyadari bahwa di tengah dunia yang makin gemar kehilangan arah
kau adalah satu-satunya titik koordinat yang tidak pernah bergeser
bahkan meski cuaca memburuk.
Semoga.
Biarkan orang lain sibuk dengan seremoni yang dangkal.
15 Maret kita adalah tentang kedaulatan yang tenang:
sebuah kemenangan yang tidak butuh tepuk tangan dari tribun penonton
karena ia sudah cukup berbunyi dalam caramu tetap menjadi manusia yang utuh
di sini, sekarang, dan untuk sekian banyak pelayaran panjang yang sudah menunggumu di cakrawala.
LAPORAN PANDANGAN MATA TENTANG KEHILANGAN
Ada banyak hal yang hilang dari berita
termasuk bagaimana rasa kehilangan itu sendiri
tidak pernah bisa dijelaskan dalam sepuluh paragraf.
Aku melihatmu kehilangan semangat setelah membaca berita tentang gedung-gedung yang dirubuhkan
atau soal kebijakan yang memangkas mimpi orang-orang kecil.
Kehilangan itu nyata
ia menyelinap di antara jemari seperti debu.
Aku tak bisa memberimu tajuk rencana yang menghibur
apalagi janji-janji manis yang biasanya muncul di kolom surat pembaca.
Aku hanya bisa menawarkan secangkir kopi yang mungkin sedikit terlalu pahit
dan kebersamaan yang tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar.
Kita sedang belajar menjadi wartawan bagi hidup kita sendiri
melaporkan bahwa meski kehilangan adalah bagian dari narasi besar ini
kita masih memiliki keberanian untuk tetap menulis halaman berikutnya.
Sumber ilustrasi: istock.
