Ada hari-hari ketika berita banjir dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terasa seperti gema dari masa depan. Bukan sekadar bencana musiman, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang retak pada hubungan kita dengan Bumi. Sungai yang dulu sekadar lewat kini membawa kayu-kayu hanyut dari hutan yang hilang. Tanah yang dulu menyerap air kini menumpahkannya kembali ke rumah-rumah orang kampung.
Dalam suasana itulah sebuah ayat terasa hidup kembali: “Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat ulah tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat itu seperti cermin yang tiba-tiba muncul di depan wajah kita. Cermin yang tidak kita minta, tapi menampilkan kenyataan apa adanya.
Ayat dan Isyaratnya
Para ahli tafsir mengatakan ayat ini tidak punya cerita khusus tentang kapan atau kenapa ia turun. Tidak ada kisah pertikaian, tidak ada kejadian perang, tidak ada tokoh antagonis. Ayat ini turun ke dunia tanpa membawa alamat tujuan, seolah-olah memang dimaksudkan untuk menunggu manusia di setiap zaman yang mulai bermain-main dengan Bumi.
Al-Tabari menyebut fasad sebagai hilangnya keberkahan. Ibn Katsir menyebutnya bencana alam. Quraish Shihab menyebutnya rusaknya keseimbangan. Ketika dibaca hari ini, ayat itu seperti bicara dengan bahasa yang sama dengan laporan-laporan lingkungan: hutan dibabat, gambut dikeringkan, sungai dipersempit, laut diobok-obok. Ayat ini turun tanpa asbab karena sepertinya sedang menunggu kita.
Fasad Alam Indonesia
Kalau kita mau jujur, apa yang terjadi di negeri ini seperti terjemahan langsung dari ayat tersebut. Hutan-hutan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dipotong seperti kain yang dibutuhkan untuk pesta besar. Lahan gambut—yang ribuan tahun diciptakan pelan-pelan oleh alam—dibuka dalam hitungan bulan untuk sawit dan industri. Sungai-sungai kehilangan palungnya, gunung kehilangan penahannya, kampung kehilangan jalannya.
Ketika banjir besar menerjang beberapa daerah Sumatra akhir 2025, media menulisnya sebagai bencana. Tapi warga tahu itu bukan peristiwa mendadak. Tanah yang sudah lama kehilangan pepohonan, dan akhirnya menyerah.
