Kesadaran ini yang kemudian menjadi langkah awal pemuda Dusun Salak, Kembang, Tlogosari, Bondowoso, Jawa Timur untuk memilih caranya sendiri dalam merayakan Ramadan. Segelintir pemuda desa ini kemudian memulai kegiatan untuk memperbaiki jalan penghubung desa serta mengupayakan penerangan di sepanjang jalan.
Sebagaimana diunggah pada akun tiktok @Salak.id pada: (27/03), dengan modal swadaya dan semangat, mereka memulai idenya. Disadari atau tidak, mereka sudah menghidupkan kembali budayanya.

Masih dengan konten yang sama. Dalam unggahan yang lain, akun dengan nama Mas Wakik, secara sederhana memberikan caption (ngabuburit berfaedah). Ia, sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam kegiatan itu menyebutkan bahwa: kegiatan ini akan terus dirawat, bukan hanya selama bulan Ramadan, tetapi juga di bulan dan tahun selanjutnya.
Cara masing-masing orang memang berbeda. Mengingat dampak (baik ataupun buruk) tidak akan terjadi di awal, maka kecerobohan dalam mengarifi cara itu sendiri yang harus dihindari.
Tulisan ini bukan untuk melemahkan cara orang lain yang lebih gemar ngabuburit atau bagi bagi takjil di jalanan. Tidak. Melainkan, hanya untuk mengapresiasi cara yang telah dipilih oleh segelintir pemuda dari ujung timur Kabupaten Bondowoso ini. Itu saja.
