Hal yang serupa juga berlaku di ruang lingkup pada di tingkatan hukum. Posisikanlah secara proporsional, yang fardhu harus diposisikan sebagai fardhu, yang sunnah juga harus diposisikan dalam koridor sunnah. Jangan sampai sunnah ditampakkan seolah wajib dan fardhu, sehingga agama nantinya menjadi sulit di mata orang awam serta bagi orang yang berniat masuk Islam.
Ihwal parenting, misalnya. Hal demikian juga perlu ilmu dalam mengelola tumbuh kembangnya anak. Seseorang (anak) dikenal sebagai hamba kebaikan (al-insan abdul ihsan) (hlm 68). Ia cenderung akan memilih terhadap sesuatu yang disukainya. Di sinilah orang tua harus berperan masuk supaya memberi kebebasan terhadap apa yang anak sukai, tetapi di saat yang bersamaan juga harus selalu diawasi supaya tidak kebablasan. Kekreativan orang tua dalam merawat, mendidik, dan membimbing besar kemungkinan anaknya tidak akan merasa kecewa dan kedekatanya juga tidak memudar terhadap orang tuanya.

Dengan fadhilah ilmu akan menuntun seseorang pada rasa syukur, mengakui keagungan Allah Swt meskipun diperhadapkan dengan peristiwa yang biasa. Gus Baha mencontohkan, entitas nyamuk untuk menunjukkan kebesaran Allah Swt. Kita tahu bersama, nyamuk diciptakan sebagai makhluk kecil, tetapi ia mampu menghisap darah manusia. Nyamuk yang kecil di dalam tubuhnya mereka juga terdapat urat-urat, di dalamnya lagi juga terdapat telor anak-anak mereka, belum lagi ketika berbicara mengenai sistem pernapasannya.
Kesemua itu kalau dianalisis dengan pikiran jernih pasti timbul pertanyaan, “Kok bisa? MasyaAllah.” Jka kita merenungi, mentadaburi semua penciptaan Allah, sudah pasti Allah Swt akan menampakkan kebesaran dan kuasan-Nya kepada umat manusia (hlm. 123).
Lebih lanjut, modal ilmu juga itu sangat perlu ketika masuk pada dunia perpolitikan berbangsa dan bernegara. Seringkali ada kelompok yang getol dengan lantang berteriak penegakan panji khilafah supaya tatanan sosio-politik menjadi ideal. Artinya, steril dari segala maksiat, korupsi, dan segala hal tindakan yang nonIslami lainnya. Padahal, jika menelisik Sirah Nabawiyah, di zaman Nabi Muhammad Saw sudah ada kaum musyrik, munafik, dan fasik. Maka dari itu pertanyaan terbesarnya adalah, ideal yang seperti apa dan bagaimana? Di zaman Nabi Muhammad yang benar-benar Nabi utusan Allah saja kondisinya sangat beragam.
Inilah pentingnya ilmu, pun ketika menyangkut aksi terorisme. Sasaran aksi bom bunuh diri atau teror seringkali ditujukan ke orang-orang kafir supaya dunia terlihat steril. Padahal dalam ajaran agama justru penekanan pada maqoshid syariah. Di sisi lain, Nabi tentu menginginkan umat yang masih nonmuslim dapat hidayah menjadi muslim. Jikalau dibom kemudian meninggal, dan meninggal dalam keadaan kafir, tentu itu akan menyebabkan masuk ke dalam neraka. Hal yang demikian pasti bukan harapan Nabi. Lagi-lagi penting sekali melestarikan dan mengedepankan fungsi akal sebagai fitur utama manusia, terutama untuk menghargai fitrahnya yang suci.
