Berida Tutur Menyigi Ingatan: Diskusi Buku Malantiong Pawo

Dalam diskusi, seniman dan penyair asal Bukittinggi, Iin Muhidin, menyampaikan satu catatan penting: agar Malantiong Pawo tidak mati, buku ini perlu terus didiskusikan—bahkan bila perlu per judul cerita. Sebab, menurutnya, buku akan hidup ketika ia terus dibicarakan, dipersoalkan, dan dibaca ulang dari berbagai sudut.

Melalui buku ini pula, Ria Astika Sari bercerita tentang hilangnya keseimbangan antara manusia dan alam hari ini. Ia mengenang masa kecil ketika alam masih ramah—mandi di sungai tanpa rasa was-was, bermain tanpa ketakutan. Kini, kenangan itu menjadi cerita, sekaligus peringatan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pertanyaan datang dari Baim, yang menyoroti proses kreatif penulisan buku Malantiong Pawo. Ia mempertanyakan bagaimana menyatukan cerita dari para penulis yang berasal dari berbagai daerah—Kampar, Pekanbaru, Siak, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, hingga Tanjung Pinang—dalam satu buku yang utuh. Sebuah kerja kolaboratif yang, menurutnya, tentu tidak mudah.

Sementara itu, Andreas Mazland menyampaikan kritik yang tajam sekaligus reflektif. Ia mempertanyakan bagaimana cara agar buku ini tidak hanya diterima oleh kalangan penulis, tetapi juga benar-benar sampai kepada anak-anak—bahkan anak-anak di luar Kampar, hingga kelak bisa diterima dunia. Ia juga mengingatkan agar cerita anak tidak mengedukasi dengan ketakutan. Anak-anak, katanya, tidak boleh dibesarkan dengan kisah yang menjadikan mereka pengecut, melainkan dengan cerita yang menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan kemampuan berpikir produktif.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Hafizah, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Salo. Ia berharap kegiatan penulisan dan diskusi cerita anak semacam ini tidak berhenti pada satu buku saja. Harapan tersebut sejalan dengan Intan Jamilah Ulfa, yang menekankan pentingnya kesinambungan gerakan literasi anak agar tidak berhenti sebagai proyek sesaat.

Tinggalkan Balasan