Penegasan atas keberlanjutan itu kembali disampaikan oleh Cik Siti. Ia menegaskan bahwa penulisan cerita anak ini akan terus berlanjut. Menurutnya, kerja-kerja literasi ini bukan sekadar menghasilkan buku, melainkan bagian dari upaya merawat ingatan masa lalu, merevitalisasi bahasa ibu, mewariskan kebudayaan, dan memperhalus akal budi generasi mendatang.
Malam itu tak hanya diisi diskusi buku. Puisi dibacakan, dimusikalisasi, dinyanyikan. Sastra lisan, dongeng anak, hingga monolog turut mewarnai suasana. Sastra menjelma peristiwa, bukan sekadar teks.

Diskusi ini menjadi upaya menumbuhkan ruang-ruang diskusi yang sehat dan berkelanjutan. Sebuah pengingat bahwa berkarya tak cukup hanya dengan menulis dan menerbitkan. Ia membutuhkan diskusi, kritik, masukan, serta kesediaan untuk mendengarkan dengan baik. Dari sanalah karya menemukan maknanya—dan penulis menemukan keberaniannya.
Di tengah gerimis yang urung menjadi hujan, Sukaria Social Space malam itu menjadi saksi: sastra tumbuh dari perjumpaan, dari keterbatasan, dan dari niat untuk terus merawat ingatan bersama.
