Dengan pemberian tersebut, mula-mula orang tersebut senang tiada terkira, karena ia berpikir bahwa Mbah Hamid memberi isyarah padanya untuk mandi supaya wangi dan besok bakal dinikahkan dengan seseorang yang, syukur-syukur, ayu sebagaimana keinginannya. Kemudian ia pun pamit pada Mbah Hamid.
Sesampai di rumahnya, kendatipun siang tadi cuaca cukup panas, namun saat malam, saat ia hendak mandi, cuaca menjadi dingin sehingga ia menggigil kedinginan saat mandi—mandi yang cukup lama, satu jam, untuk menghabiskan sabun tersebut. Namun, sabun tersebut sepertinya tetap utuh.

Bahkan, ketika ia bangun sebelum Subuh untuk mandi lagi, sabun tersebut tidak kunjung menipis. Kemudian ia membangunkan semua anaknya untuk dimandikan dengan sabun tersebut, bahkan ia membersihkan lantai kamar mandi dengan sabun tersebut, namun sabun tersebut tetap tidak habis. Ia jadi bingung, sebetulnya itu sabun apa; kenapa tidak habis-habis?
Kemudian karena hari mulai pagi dan waktu janjian bertemu dengan Mbah Hamid kian mepet, dengan terburu-buru dan masih dengan pikiran bakal dinikahkan ia bersiap-siap untuk kemudian mengendarai motornya menuju ndalem Mbah Hamid.
