Menjadi influencer sejatinya bukanlah hal yang keliru—selama dilakukan dengan kesadaran, nilai-nilai positif, dan tanggung jawab sosial. Banyak anak muda Indonesia yang berhasil memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan perubahan, berbagi inspirasi, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, jika motivasi utamanya hanya untuk ketenaran instan dan keuntungan cepat, risiko yang muncul juga tidak bisa diremehkan.
Di sinilah peran keluarga dan sekolah menjadi sangat vital. Orang tua tak cukup hanya menjadi pengawas pasif, tetapi juga perlu aktif dalam mendampingi anak-anaknya menjelajahi dunia digital. Mengatur waktu penggunaan gawai, membangun kebiasaan berdiskusi soal konten yang dikonsumsi dan diproduksi, serta mengedukasi soal etika, privasi, dan pentingnya proses—semua itu menjadi langkah awal membangun fondasi karakter digital.

Anak-anak juga perlu diarahkan untuk menyalurkan kreativitas mereka dalam berbagai aktivitas yang lebih membangun: seni, olahraga, kegiatan sosial, atau eksperimen ilmiah sederhana. Dunia maya memang menarik, tapi ia tak boleh menjadi satu-satunya tempat anak-anak meletakkan jati diri dan harapan.
Pihak sekolah juga memegang peran krusial. Kurikulum yang sensitif terhadap perkembangan zaman perlu memasukkan literasi digital sebagai bagian dari pembelajaran wajib. Anak-anak harus diajarkan untuk berpikir kritis, memahami etika bermedia, dan mampu menilai informasi secara objektif. Pembelajaran karakter tak lagi cukup lewat pelajaran PPKn semata, tapi harus dibumikan dalam konteks kekinian yang mereka alami setiap hari.
Dengan dukungan yang tepat, generasi muda kita bisa tumbuh menjadi influencer yang tak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial. Mereka bukan hanya akan ditonton, tetapi juga bisa menjadi panutan. Bukan hanya konten yang mereka hasilkan yang viral, tapi juga nilai-nilai positif yang mereka tularkan ke lingkungannya.
Sumber foto: alamtarainstitute.
