Kehadiran bulan Ramadan selalu dinanti-nanti oleh kaum muslim di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, mereka yang non-muslim—baik Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, hingga Konghucu—juga sangat antusias menyambutnya.
Ramadan di Indonesia memang memiliki corak kultural yang unik. Kita bisa melihat fenomena maraknya penjual takjil yang berderet di pinggir jalan, keriuhan anak-anak yang membangunkan sahur dengan kentongan, hingga budaya luhur berbagi takjil gratis di masjid maupun perempatan lampu lalu lintas.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada sisi gelap yang jarang disorot secara serius: ledakan limbah. Banyak orang, ketika sudah larut dalam euforia spiritualitas, lupa bahwa ada satu persoalan eksistensial yang hingga detik ini belum teratasi, yakni krisis iklim. Ironisnya, ketika Ramadan datang, bukannya suhu Bumi yang mendidihini mendingin, justru tumpukan sampah justru menggunung akibat pola konsumsi yang tidak terkendali.
Jika kita meninjau data tahun 2025 lalu, kenaikan suhu global rata-rata mencapai 1,42 derajat Celcius di atas level pra-industri. Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1,55 derajat Celcius —tahun yang dinobatkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah—tren pemanasan global tetap berada pada jalur yang mengkhawatirkan. Bumi sedang tidak baik-baik saja, dan aktivitas manusia selama bulan suci ternyata turut menyumbang beban bagi atmosfer.
Sebuah kontradiksi muncul jika kita melihat realitas sosial masyarakat kita. Ramadan, yang secara teologis bermakna pembersihan diri dan pengendalian hawa nafsu, justru acapkali menjadi pemicu banjir sampah. Pola konsumsi masyarakat terhadap pangan, pakaian , hingga penggunaan energi transportasi untuk mobilitas ngabuburit melonjak sangat tajam.
