SUJUD TERAKHIR
pada sujud terakhir
dalam salat itu
kemarin tepat hitungan 10 hari terakhir katanya
wajahku mengelupas
berubah warna, dingin layaknya pagi
bukan malam, bukan penyesalan, bukan kebahagiaan, tapi
sebuah ketukan.

“istajib du’ana, innaka antas sami’ul ‘alim”
kugaungkan dan mengingat cara terbaik
bukan untuk menguji
___barangkali yang masuk bukan
cuma aku
bahwa kami terlalu ribut
dalam segala derita.
Yogyakarta, 2026.
ALUNAN RAMADAN
aku dengar
anak-anak melangitkan doa-doa di rebah ibunya
berlantai gelombang
bersorban angin
dan ayahnya akan tetap membelikannya
mortir, sarung, selimut di arus mimpi
prakk, terlempar
defff, tersungkur
di luar
langit mendung seatap rumah
pintu terbuka seluas-luasnya.
Yogyakarta, 2026.
RAMADAN CERLANG
suaramu mengoar lantunan ayat-ayat
saat ramai-ramai kepala melingkar di bawah terik
tak ada kesucian hati dari alif, ba, ta dibilik suntuk jalan
betapa kemurnian mulai membatin di bulan ini
meluapi takjil gratis yang dijinjing itu
hati menyeringai lebar
membusung ilahi yang mengandung melalui tangan-tangan cahaya
inilah kekuatan demi kekuatan
bernapaslah lega
melunak kembali hingga tak tersisa.
Yogyakarta, 2026.
SAKU IBU
ibu mengecer uang di sakunya
fajar pagi, saat niat-niat berhasil dibisikkan
di dalam sakunya
jantung berdebar ke mana-mana
menerobos tanjakan yang berkelok
seperti harapan yang entah tak pernah berarah.
di dalam sakunya
bercahaya sangat
tapi ia luka
dari samudra yang usai ditambatkan
maka jika kau menerimanya
