Kacamata Silence Learning
Baik, penulis di sini tidak akan terfokus pada kutipan-kutipan dalil naqli maupun referensi kitab kuning, melainkan menyelami dan mengimbangi sudut epistemik yang mereka gunakan ala kultur Barat.

Hemat penulis, tagar #boikottrans7 menunjukkan adanya pergulatan dalam bingkai penglihatan yang digunakan untuk memahami relasi kiai dan santri. Suguhan Dat Bao, pengajar Monash University dalam bidang Education Culture & Society, tentang Silence Learning/ Communicatioon, patut untuk kita jadikan paradigma lain dalam melihat fenomena di pesantren.
Menurutnya, keheningan dalam proses belajar, terutama yang banyak dijumpai dalam budaya Timur, bukanlah pasif atau kosong, melainkan sebuah wadah aktif (active vessel) yang setara dengan berbicara.
Dat Bao menjelaskan, misalnya dalam Exploring How Silence Communicates (2020), bahwa keheningan dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui dua pendekatan utama: (1) sebagai sarana untuk memproses materi secara mental, atau (2) sebagai objek studi untuk menganalisis dan mendiskusikan penggunaannya dalam interaksi komunikasi.
Dari argumentasi Bao tersebut, aktualisasi ini relevan jika ditarik ke ranah relasi kiai-santri dalam skema pengajaran tradisional di pesantren.
Ekspresi Respect & Humility
Keheningan adalah manifestasi nyata dari penghormatan (seperti takzim atau sungkem) kepada guru. Dalam relasi kiai dan santri, keheningan adalah bahasa santri untuk menunjukkan kerendahan hati dan kesiapan menerima ilmu secara total, menyadari bahwa sumber ilmu (si kiai) adalah pribadi yang otoritatif secara spiritual dan intelektual.
