Padahal, di saat bersamaan, karya yang membicarakan tokoh-tokoh negara mereka, bahkan Ali bin Abi Thalib yang merupakan imam besar Syiah, masih ditulis oleh para sarjana Barat. Ali kemudian melihat bahwa pola pikir semacam itu tak ada bedanya dengan telur setengah matang. Dari luar memang kelihatan kering. Tapi disenggol dalamnya, akan ambyar begitu rupa.
Dalam esainya, “Islam dan Ketuhanan”, Ali mengatakan –izinkan saya membahasakannya sedikit berbeda— mereka layaknya dokter yang malapraktik. Mendiagnosis pasien lantas percaya diri untuk mengoperasinya. Padahal, diagnosisnya salah.

Dengan kata lain, laku pekerjaan dengan laku pemikiran adalah dua hal yang mesti berjalan beriringan. Kata Imam Az-Zarnuji, merupakan sebuah kerusakan besar saat orang berilmu tidak mengamalkan ilmunya. Tapi lebih besar kerusakannya jika orang yang tak mengerti ilmu dengan pedenya beramal. Sebab itu, hablumminal-alam tak hanya melulu soal “tidak boleh membuang sampah sembarangan”, tapi juga “mengapa tak boleh membuang sampah sembarangan?”
Untuk sekadar menyebut satu dari banyak kiai yang aktif dalam merumuskan fondasi pemikiran seperti itu, yang paling terkenal mungkin Kiai Faizi. Ya kiai, ya seniman. Tapi lebih dari itu, jagat intelektual juga mengenalnya lewat bukunya, Merusak Bumi dari Meja Makan, dan esai-esai ekologis lain yang seringkali memadukan pengalaman personal dengan data-data ilmiah yang mendalam. Gaya tutur karyanya, untuk seorang kiai yang sudah menginjak kepala lima, masih terasa seperti seorang remaja umur dua puluhan awal, seperti saat ia menulis dalam bukunya begini:
Adakah yang lebih abadi daripada cinta Majnun kepada Laila? Ada, di antaranya ialah kotak styrofoam, bungkus nasi Majnun Laila milenial, bungkus makan siang mereka berdua yang akan tetap abadi di atas tanah saat mereka sudah terkubur di baliknya. (hal.76)
Tapi bukan berarti semua kiai harus menciptakan sebuah risalah pemikiran macam Kiai Faizi, atau membuat buku setebal Principia Logica-nya Martin Suryajaya. Sama halnya dengan seorang aktifis politik yang mau menumbangkan pemerintah tapi selalu sibuk turun ke jalan, kiai sebagai warasatul anbiya (pewaris para nabi) yang berdakwah di tengah-tengah masyarakat, juga tak selamanya punya waktu untuk menulis buku.
Ada yang aktif di pengajian, ada yang sibuk mengurusi santri, ada pula yang aktif di kegiatan sosial. Maka, layaknya seorang aktifis yang mengikuti isme-isme tertentu, kiai juga bisa melandaskan pemikirannya, juga pesantrennya, kepada sanad keilmuan tertentu.
Contoh yang menarik adalah Gus Roy yang pada 2019 lalu didorong oleh rasa prihatin terhadap berbagai konflik ekologis yang tak berkesudahan, mendirikan Pesantren Ekologis Misykat Al-Anwar. Tak hanya membolak-balik kitab kuning, santri di sana juga dilatih membolak-balik kompos hingga membalik pikirannya dari Islam yang jumud ke progresif. Keberpihakan pesantren itu jelas: inklusif, ahlussunnah waljamaah, humanis, ekologis, berkeadilan gender dan sosial.
Pemikirannya tentang lingkungan sebenarnya tidak terlau ribet untuk diikuti oleh kalangan pesantren yang sering berjibaku dengan Al-Qur’an dan, dalam beberapa kasus, kitab kuning.
Dalam esainya, “Krisis Ekologi dan Bangkrutnya Peran Agama”, ia secara sederhana memformulasikan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kaidah-kaidah fikih —makanan sehari-hari santri— sebagai solusi dari berbagai masalah lingkungan. Bahwa ayat ke-56 surat Al-A’raf mengatakan “Jangan membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” atau kaidah fikih “menolak kerusakan lebih diutamakan dari mengharap kemaslahatan” dan semacamnya, secara jelas menujukkan bahwa Islam yang sejati sebenarnya sangat anti terhadap segala bentuk eksploitasi.
Tapi Gus Roy, juga kita semua, tentu saja tahu belaka bahwa sekarang para kiai lebih asyik berebut batu bara daripada mutholaah (baca: mengkaji kembali) kitab-kitabnya. Itu pula hal yang menyebabkan saya agak khawatir saat kiai saya beberapa waktu lalu meninggalkan pesantren selama dua bulan untuk berhaji. Apakah pesantren saya kemudian ikut-ikutan tabiat munafik “kiai-kiai tambang” itu? Apakah jika tak ada kiai yang resik-resik kemudian santrinya juga ikut-ikutan?
