Beruntungnya, penyamaran kiai saya tampaknya berhasil. Ketiadaannya tak lantas mengubah kebiasaan kami secara fundamental. Ia kadung kami anggap sebagai sesama santri. Ikut bersih-bersih ya silakan, tidak ikut ya digantikan saja sama yang lain. Dan justru, di situlah letak kekuatannya. Ia tak hanya “sosok”, tapi juga teman, bahkan napas, bagi para santrinya.
