Sosialisasi juga dilakukan untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang bahaya wabah pes. Pengumuman dipasang di sudut-sudut tertentu menggunakan aksara Jawa (Hanacaraka). Namun, cara ini justru menyulitkan masyarakat yang lebih mengenal aksara Arab Pegon. Akibatnya, sosialisasi menjadi tanggung dan tidak maksimal.
Dalam menangani wabah pes ini, sangat disayangkan juga karena dokter-dokter Eropa enggan untuk terlibat langsung. Mereka berdalih masih mengalami trauma atas wabah Black Death yang sempat menghantui masyarakat Eropa beberapa tahun sebelumnya. Dengan demikian, penanganan wabah pes ini ditangani langsung oleh dokter-dokter bumiputra, seperti dr Tjipto Mangunkusumo.

“Para dokter Eropa trauma atas pengalaman dengan Black Death, lalu menyerahkan tugas kepada dokter bumiputra yang tidak mengerti tentang pes,” ucap Syefri.
Berselang dua tahun pasca terjadinya wabah pes, muncul wabah lain di Hindia Belanda, yakni influenza. Syefri meyakini wabah ini disebarkan oleh para tentara Amerika yang sedang membantu Prancis dalam Perang Dunia I. Tetapi pemerintah di negara yang terlibat perang tersebut berusaha menutupi. Hingga kabar ini kemudian disebarkan pertama kali oleh Spanyol yang dalam hal perang berada di posisi netral. Oleh karena itu, influenza juga dikenal dengan sebutan flu Spanyol.
Influenza memakan lebih banyak korban. Data yang ditemukan menyebutkan jumlah korban pada 1918 mencapai 1,5 juta jiwa. Laporan tentang wabah ini muncul di banyak surat kabar dari berbagai penjuru di Hindia Belanda. Wabah ini memang tidak hanya berada pada satu titik, melainkan menyebar di banyak wilayah.
Kala itu, anjuran untuk memakai masker dan ‘di rumah saja’ juga digalakkan agar masyarakat terhindar dari wabah influenza. Pemerintah juga menyusun rancangan Influenza Ordonantie pada 1919 untuk mengatasi masalah ini, serta melaksanakan program Medische Propaganda melalui karikatur wayang dan lain sebagainya sebagai langkah sosialisasi wabah. Bagi pasien yang sembuh juga mendapatkan surat bebas influenza.
