Dakwah Digital, Antara Edukasi dan Syahwat Popularitas

Namun, keuntungan dakwah digital tidak datang tanpa konsekuensi. Di balik kemudahan aksesnya, terdapat mekanisme algoritma yang memengaruhi cara masyarakat beragama. Algoritma memprioritaskan konten yang memicu respons emosional, interaksi tinggi, dan tren viral. Hal ini secara tidak langsung mendorong sebagian pendakwah memproduksi konten yang sensasional demi memperluas jangkauan. Konten dengan judul provokatif, gaya penyampaian dramatis, atau isu kontroversial lebih cepat menarik perhatian, bahkan ketika substansinya minim.

Dalam kondisi ini, dakwah berpotensi bergeser dari misi edukasi menuju arena kompetisi popularitas. Pendakwah digital tidak lagi hanya dinilai dari kedalaman ilmunya, melainkan juga dari jumlah pengikut dan tingkat keterlibatan warganet. Beberapa pendakwah bahkan membangun citra personal layaknya selebritas lengkap dengan manajemen konten, promosi, dan gaya presentasi yang dirancang untuk memikat audiens. Fenomena komodifikasi agama ini menimbulkan kekhawatiran bahwa nilai-nilai dakwah yang mulia dapat terhimpit oleh strategi pemasaran yang berorientasi pada keuntungan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tantangan lain yang muncul ialah risiko penyebaran misinformasi keagamaan. Dalam ruang digital, materi agama yang kompleks sering disederhanakan secara berlebihan demi kepentingan viralitas. Rujukan ilmiah, konteks historis, dan pendapat ulama kerap diabaikan sehingga menghasilkan pemahaman yang keliru. Bahkan, sebagian konten dakwah terjebak pada ujaran penghakiman dan klaim kebenaran sepihak yang dapat memperuncing polarisasi umat.

Tinggalkan Balasan