Dari Haul Akbar Masyayikh Cipasung

“Cinta kepada guru itu syarat utama keberkahan ilmu,” ucapnya, mengutip kalam Mbah Hasyim Asy’ari.

Haul ini menjadi medan tafakur bagi alumni. Dr KH Tatang Astaruddin, dalam uraian hikmahnya, tak ragu menyentil: “Jika pulang dari haul ini hanya membawa foto dan nostalgia, tanpa komitmen, itu bukan haul. Itu pemakaman kedua bagi perjuangan para kiai.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tepuk tangan meledak, tapi juga banyak wajah yang menunduk: refleksi yang menampar dengan lembut namun dalam.

Dr Tatang mengajak para santri untuk tidak cengeng menghadapi zaman. “Cipasung bukan sekadar rumah,” katanya, “ia adalah tiang utama dari kapal layar yang menavigasi hidup kita.”

Dengan mengutip Khalil Gibran, ia menegaskan: tempat ini bukan untuk diam, tapi untuk mengakar dan bergerak. Dalam satu kalimat, ia menanamkan pesan yang akan lama membekas: “Kemuliaan tidak ada dalam gelar, tapi dalam pelayanan yang tulus kepada umat.”

Tinggalkan Balasan