Dari Haul Akbar Masyayikh Cipasung

Pondok Pesantren Cipasung hari ini bukan lagi hanya tempat ngaji kitab kuning. Ia telah berkembang menjadi lembaga besar dengan fasilitas pendidikan formal dari TK hingga Program Pascasarjana. Tapi yang tak berubah adalah ruhnya: keikhlasan. Dari zaman kolonial hingga kemerdekaan, dari lumbung-lumbung padi hingga gedung-gedung bertingkat, ruh perjuangan Kiai Ruhiyat tetap menjadi arah.

Sambutan KH Ubaidillah Ruhiyat, penerus kepemimpinan pesantren, menguatkan semua itu. “Haul ini adalah bentuk birrul walidain: membalas cinta orang tua dengan doa, dengan perjuangan, dan dengan menjaga silaturahmi,” ucapnya. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi, dengan menyatukan kembali keluarga dan alumni dalam satu barisan perjuangan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Momentum itu juga menjadi panggung konsolidasi antarwilayah. Hadirnya Bupati Tasikmalaya, H Cecep Nurul Yakin, menandakan bahwa Cipasung tidak hanya penting bagi dunia pendidikan, tetapi juga bagi arah kebijakan daerah. Ia berkomitmen menjadikan nilai-nilai religius sebagai fondasi pembangunan: dari salat berjamaah ASN hingga infrastruktur yang memudahkan umat.

Namun satu penanda kekuatan pesantren yang paling menyentuh datang bukan dari pejabat atau tokoh besar, melainkan dari peluncuran kitab berbahasa Arab karya Dr KH Muhammad Rizki Ramdan Ubaidillah Ruhiyat. Ia adalah cucu pendiri pesantren. Dan kitab itu adalah bukti bahwa warisan keilmuan tidak berhenti di pusara, tapi terus mengalir lewat pena.

Di pengujung acara, langit mulai teduh, dan hadirin bersiap pulang. Tapi dalam hati mereka, nyala itu belum padam. Cipasung, seperti kata Dr Tatang, bukan hanya alamat. Ia adalah kompas moral—yang menunjuk ke arah keberanian, kejujuran, dan keikhlasan.

Tinggalkan Balasan