Dari Ngaji Tafsir ke Gerobak Sampah: Potret Ekoteologi Santri Yasinat

Piket sebagai Amal Ekologis

Rutinitas kebersihan santri Yasinat dibuat piket layaknya ronda di perumahan. Dijalankan secara bergilir saat pagi dan sore hari. Hanya, bedanya, kalau ronda menjaga keamanan saat malam, sedangkan piket menjaga kebersihan pesantren. Setiap sampah yang dipungut akan bernilai ibadah, manakala tidak dicampuri niat pencitraan. Sebab, adakalanya santri yang semangat piket hanya demi ingin melirik paras anggun santriwati.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meskipun membersihkan sampah merupakan aktivitas kotor, namun manfaatnya bagi lingkungan sangat penting. Sehari saja tidak dibersihkan, sampah akan menumpuk bagaikan gumuk. Apalagi seminggu, apa tidak sudah jadi gunung. Piket kebersihan selain karena tuntutan jadwal piket, bagi santri bisa jadi amal ekologis. Itulah kenapa pengasuh selalu dawuh: Segala aktivitas niatkan ibadah.”

Gerobak Sampah: Kendaraan Ibadah 

Setiap tinta yang digoreskan saat mengaji tafsir Al-Qur’an menjadi benih yang tumbuh pada perilaku santri Yasinat. Terutama ayat-ayat lingkungan tidak berhenti di lembaran tafsir. Hubungan santri dengan lingkungan sangat erat. Mereka tahu tanggung jawab beragama bukan saja soal salat, zikir, dan berdakwah. Lingkungan yang bersih juga jadi kewajiban yang tidak boleh ditawar.

Memang secara diskursus, istilah ekoteologi mungkin sama sekali belum didengar di ruang kelas ngaji tafsir santri Yasinat. Boleh jadi hal ini terasa miris. Tetapi, realitanya praktik ekoteologi itu telah berjalan tanpa disadari. Tafsir ayat lingkungan tampak nyata melalui aktivitas saat piket kebersihan pesantren. Seperti tafsir surat Al-A’raf ayat 56; bahwa manusia dilarang merusak bumi, termasuk mengotorinya dengan sampah.

Tinggalkan Balasan