Oleh karena itu, tidak tanggung-tanggung, sampah yang berada di depan asrama santri, diangkut menggunakan gerobak. Saat mengangkut, santri yang piket memastikannya jangan sampai ada sampah tercecer di jalanan sekitar pesantren. Kemudian dibawa ke tempat pembakaran dengan sebelumnya dipilah dulu, mana organik dan anorganik.
Sekalipun ada santri yang ditempatkan untuk mengabdi pada tempat pembakaran, tapi soal kebersihan pesantren tetap menjadi tanggung jawab bersama santri.

Apalagi soal gerobak pengangkut sampah, pasti selalu dicek kondisi daya tahannya, dari roda hingga besi penyangga muatan. Apabila ada ban yang kempes, segera dipompa. Apabila ada rantai yang putus, segera dilas. Beda lagi, apabila gerobaknya sudah dipegang gus atau pengasuh pesantren, maka itu namanya kode keras, agar santri segera membersihkan sampah.
Kadang memang begitu, cukup dengan bahasa isyarat untuk mengatasi rusaknya gerobak dan mandeknya piket kebersihan. Anehnya, hal itu hanya ditemukan di pesantren. Bukan di dalam gedung formal berdinding kaca.
Bagi santri Yasinat, gerobak tidak sekadar alat pengangkut sampah, melainkan kendaraan ibadah untuk tetap terhubung baik dengan lingkungan maupun Sang Pencipta. Tanpa gerobak, sampah tidak akan terangkut dengan bersih. Lingkungan pesantren pun tetap kotor lagi, sehingga mengganggu kenyamanan mengaji dan berzikir. Hubungan dengan Tuhan semakin berjarak.
Padahal adanya lingkungan bukti dari keberadan ayat-ayat Tuhan yang jelas harus dilestarikan dan dijaga. Seakan-akan jadi sia-sia saja, jika belajar tafsir ayat lingkungan, tapi praktiknya nihil. Untung masih kosong atau nol, kalau minus? Yang awalnya percuma, malah jadi utang amal ekologis. Begitulah, pentingnya ngaji tafsir yang sekaligus praktik dengan gerobak sampah.
